Metapos.id, Jakarta – Istilah homeless media kembali menjadi perhatian publik setelah Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa sejumlah media digital kini menjalin kemitraan dengan pemerintah.
Dalam konferensi pers di Jakarta pada Rabu (6/5/2026), Qodari mengatakan bahwa media digital yang tergabung dalam Indonesia New Media Forum sebelumnya sering disebut sebagai homeless media. Namun, saat ini komunitas tersebut mulai berkembang menjadi new media dengan konsep yang lebih profesional dan terorganisir.
Qodari juga menegaskan bahwa kolaborasi dengan media digital dinilai penting untuk memperluas penyampaian informasi pemerintah kepada masyarakat. Terlebih, sebagian besar generasi muda kini lebih aktif mengakses informasi melalui media sosial.
Beberapa media digital yang disebut dalam forum tersebut di antaranya Folkative, Indozone, Dagelan, Narasi, USS Feed, Bapak-Bapak ID, Kok Bisa?, hingga CXO Media.
Menurut Qodari, pemerintah perlu menjalin komunikasi yang lebih dekat dengan pelaku media digital agar pesan yang disampaikan dapat diterima lebih luas oleh masyarakat.
Selain itu, ia berharap kerja sama tersebut dapat mendorong peningkatan kualitas konten digital di Indonesia.
Mengenal Istilah Homeless Media
Istilah homeless media pertama kali diperkenalkan oleh Eddward Samadyo Kennedy pada 2017. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan media yang tidak memiliki situs web resmi dan lebih mengandalkan platform media sosial untuk menyebarkan konten.
Berdasarkan laporan ANTARA pada Februari 2026, homeless media merujuk pada aktivitas produksi dan distribusi informasi yang sepenuhnya berlangsung di media sosial tanpa dukungan struktur perusahaan pers konvensional.
Peneliti dari Remotivi, Geger Riyanto, menjelaskan bahwa perkembangan homeless media dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya kecepatan penyebaran informasi, kedekatan dengan audiens, dan tingginya interaksi pengguna media sosial.
Selain itu, proses produksi konten yang lebih sederhana membuat media jenis ini mampu menyebarkan informasi lebih cepat dibanding media arus utama. Karena alasan tersebut, banyak pengguna muda lebih sering mengikuti akun media sosial dibandingkan media konvensional.







