Metapos.id, Jakarta – Penyanyi pop Inggris Ed Sheeran menangis saat membahas kondisi Gaza dalam penampilannya di Philadelphia, Amerika Serikat, Sabtu (19/9/2026).
Sheeran mengatakan dirinya tidak pernah berniat menjadi musisi aktivis, tetapi isu tersebut membuatnya berada di tengah perdebatan mengenai kebebasan berbicara dan persoalan politik yang kompleks.
“Saya tidak pernah ingin menjadi musisi aktivis, tetapi ini telah menempatkan saya di tengah-tengah perdebatan penting dan penuh semangat tentang kebebasan berbicara dan isu politik paling kompleks di planet ini,” kata Ed Sheeran, dikutip dari berbagai sumber, Senin (21/9/2026).
Ia kemudian menggambarkan situasi di Gaza sebagai bencana yang tidak dapat dibenarkan, sembari menyoroti banyaknya korban sipil, termasuk anak-anak.
“Hati saya hancur melihat skala kehancuran dan hilangnya nyawa warga sipil, nyawa anak-anak. Ketidakadilan sistemik yang kita saksikan terjadi di Tepi Barat tidak bisa diabaikan,” ungkapnya.
Sheeran mengatakan dirinya telah berbicara dengan orang-orang dari berbagai latar belakang untuk mencari cara memberikan bantuan kepada para korban. Ia juga menyebut proses tersebut membuatnya terus mendengarkan dan mempelajari persoalan yang terjadi.
Di tengah pernyataannya mengenai Gaza, Sheeran turut menegaskan bahwa konsernya harus tetap menjadi ruang yang dapat diikuti oleh orang-orang dengan pandangan berbeda.
“Konser ini tetap menjadi tempat di mana semua orang diterima, dan semua orang di sini dapat berdiri berdampingan dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda, dan semua orang di sini dapat berdiri berdampingan dengan orang-orang yang tidak mereka setujui dalam segala hal, tetapi mereka semua dapat sepakat untuk menyanyikan lagu-lagu ini,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Sheeran menjadi sorotan menyusul keputusan mengeluarkan rapper Macklemore dari sisa tur Loop di Amerika Serikat. Macklemore sebelumnya menyampaikan pandangan mengenai Israel dan Palestina saat tampil di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, pada 4 September.
Sejumlah stadion yang disebut terkait keputusan tersebut antara lain Lincoln Financial Field di Philadelphia, Gillette Stadium di Foxborough, Mercedes-Benz Stadium di Atlanta, Lucas Oil Stadium di Indianapolis, Bank of America Stadium di Charlotte, AT&T Stadium di Arlington, dan Raymond James Stadium di Tampa.
Macklemore kemudian mengungkap klaim mengenai pembicaraan antara Sheeran dan Robert Kraft, pemilik Gillette Stadium, terkait keikutsertaannya dalam tur tersebut.
“Ed memberi tahu saya bahwa Kraft mengatakan saya tidak akan diizinkan tampil di stadionnya,” klaim rapper itu.
“Ed juga memberi tahu saya bahwa Kraft telah mengumpulkan beberapa pemilik stadion lain dan secara kolektif mereka memberinya ultimatum: jika Macklemore tetap dalam tur, Anda tidak akan diizinkan bermain di tempat kami,” ungkapnya.
Setelah Macklemore dikeluarkan, sejumlah penampil pembuka lainnya, yakni Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, serta band pengiring Sheeran, Beoga, turut mengundurkan diri dari tur.
Sheeran sebelumnya menegaskan keputusan pencopotan Macklemore bukan berasal darinya, melainkan promotor tur.
“Kontrak Macklemore untuk tur itu adalah dengan promotor, bukan dengan saya. Saya tidak akan pernah mengecewakan para penggemar yang telah membuat rencana, dan saya juga tidak akan meninggalkan kru tur serta artis pendukung dan musisi lain yang bergantung pada saya untuk pekerjaan dan penghidupan,” katanya.
Pada 16 September, Sheeran juga mengumumkan rencana menyumbangkan US$1 juta yang diperolehnya dari penampilan di tur tersebut kepada organisasi yang mendukung rakyat Palestina.
Ia kemudian mengajak Kraft untuk menyamai donasi tersebut. Pada hari yang sama, Kraft mengatakan Sheeran telah memintanya menyamai donasi sebesar US$2 juta untuk membantu menangani krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.







