Metapos.id, Jakarta – Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang tidak dapat disamakan dengan rasa sedih biasa. Kondisi ini dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, menjalani aktivitas, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut depresi sebagai salah satu gangguan mental yang ditandai suasana hati yang terus menurun atau hilangnya minat terhadap berbagai aktivitas dalam jangka waktu lama. Gejalanya dapat berlangsung hampir setiap hari selama sedikitnya dua pekan dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
Secara global, WHO memperkirakan sekitar 332 juta orang mengalami depresi atau sekitar 4 persen dari populasi dunia. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi sebesar 1,4 persen, dengan kelompok usia 15–24 tahun menjadi yang paling banyak terdampak.
Meski demikian, masih banyak penderita yang enggan mencari bantuan karena khawatir mendapat stigma negatif dari lingkungan. Padahal, depresi merupakan kondisi medis yang dapat ditangani melalui pendampingan profesional dan dukungan dari orang-orang terdekat.
Seseorang yang mengalami depresi tidak selalu tampak murung. Mereka tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, namun di saat yang sama mengalami kelelahan, kehilangan minat, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, hingga merasa tidak berharga. Karena itu, memahami gejala depresi dan memberikan dukungan tanpa menghakimi menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan mental.







