Metapos.id, Jakarta – Made in Korea menjadi salah satu drama Korea termahal yang pernah diproduksi. Serial tersebut menghabiskan anggaran mencapai 70 miliar won atau sekitar Rp911 miliar untuk dua musim.
Angka tersebut diberitakan Korea Herald pada Selasa (1/9/2026). Biaya produksi Made in Korea bahkan melampaui Moving yang menghabiskan sekitar 65 miliar won dan Arthdal Chronicles dengan 54 miliar won.
Made in Korea mengangkat kisah kekuasaan dan keserakahan dengan latar politik Korea Selatan pada era 1970-an.
Drama yang pertama kali dirilis pada 2025 ini kembali menghadirkan Hyun Bin dan Jung Woo-sung untuk Season 2. Musim pertama disebut menjadi produksi orisinal Korea yang paling banyak ditonton di Disney+.
Kesuksesan tersebut membuat Season 2 hadir dengan ekspektasi lebih besar. Hyun Bin mengakui dirinya merasakan tekanan untuk mempertahankan pencapaian musim sebelumnya.
“Bukan berarti saya tidak merasa tertekan. Karena begitu banyak orang menikmati Season 1, sebagian dari diri saya juga berharap mereka akan menonton Season 2,” kata Hyun Bin dikutip dari berbagai sumber, Minggu (06/09/2026).
Ia juga menilai alur Season 2 lebih ringkas dibandingkan musim pertama sehingga cerita dapat berkembang lebih cepat.
“Di Season 1, ada banyak eksposisi yang diperlukan untuk memperkenalkan karakter dan situasi dalam setiap episode,” jelas Hyun Bin.
“Di Season 2, begitu peristiwa dimulai, ceritanya terus berkembang sebagai satu rangkaian narasi. Saya rasa penonton akan dapat lebih tenggelam di dalamnya dan menikmatinya,” lanjutnya.
Season pertama berfokus pada konflik Gi-tae (Hyun Bin), seorang taipan yang memanfaatkan ketidakstabilan politik untuk memperbesar kekuasaan, dan Geon-young (Jung Woo-sung), jaksa yang berusaha menghentikannya.
Pada akhir musim pertama, Geon-young dipenjara dan dipermalukan, sementara Gi-tae semakin kuat. Sembilan tahun kemudian, perseteruan keduanya berkembang menjadi dendam pribadi.
Season 2 melanjutkan konflik tersebut dengan hubungan yang semakin personal. Sutradara Woo Min-ho mengatakan penggunaan karakter fiktif juga memberikan ruang lebih bebas dalam mengembangkan cerita.







