Metapos.id, Jakarta — Rumah H.O.S. Tjokroaminoto di kawasan Peneleh, Surabaya, memiliki kaitan erat dengan perjalanan sejumlah tokoh yang kemudian mewarnai sejarah politik Indonesia.
Pada masa awal abad ke-20, rumah tersebut menjadi tempat tinggal sekaligus ruang bertemunya para pemuda yang sedang mencari dan mengembangkan gagasan tentang masa depan Indonesia.
Di lingkungan Tjokroaminoto, Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo pernah tinggal dan mendapatkan pengalaman intelektual. Namun, ketiganya kemudian memilih arah pemikiran serta perjuangan politik yang berbeda.
Soekarno mengembangkan gagasan nasionalisme dan kemudian tampil sebagai salah satu tokoh utama dalam perjuangan kemerdekaan. Ia selanjutnya menjadi Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia.
Musso memilih jalan politik yang berlandaskan komunisme. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh penting PKI dan tercatat dalam sejarah terkait Peristiwa Madiun 1948.
Sementara itu, Kartosuwiryo mengambil jalur perjuangan yang berlandaskan gagasan Islam. Ia kemudian memimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dalam perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Republik Indonesia.
Meski pernah berada dalam lingkungan yang sama, ketiga tokoh tersebut akhirnya memiliki pandangan dan orientasi perjuangan yang berbeda.
Rumah Tjokroaminoto menjadi salah satu tempat penting dalam proses pertukaran gagasan di kalangan pemuda pada masa pergerakan. Dari lingkungan tersebut, berbagai pemikiran berkembang sebelum para tokohnya menentukan pilihan politik masing-masing.
Perjalanan Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo juga menggambarkan beragamnya gagasan yang berkembang dalam sejarah pergerakan Indonesia. Perbedaan pemikiran tersebut kemudian turut membentuk perjalanan politik bangsa pada periode berikutnya.







