Metapos.id, Jakarta – Permadani Bayeux (Bayeux Tapestry) akan kembali ke Inggris untuk pertama kalinya dalam hampir 1.000 tahun. Artefak bersejarah yang selama ini disimpan di Prancis itu dijadwalkan dipamerkan di British Museum mulai September 2027 sebagai bagian dari kerja sama budaya antara kedua negara.
Kesepakatan peminjaman diumumkan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu bentuk penguatan hubungan budaya antara Prancis dan Inggris melalui pertukaran koleksi bersejarah.
Permadani Bayeux merupakan karya sulaman sepanjang sekitar 70 meter yang dibuat pada abad ke-11. Artefak ini menggambarkan peristiwa Penaklukan Norman atas Inggris pada 1066, termasuk kemenangan William the Conqueror dalam Pertempuran Hastings.
Meski dikenal sebagai permadani, karya tersebut sebenarnya merupakan sulaman yang dibuat menggunakan benang wol di atas kain linen. Selama berabad-abad, Bayeux Tapestry menjadi salah satu sumber visual terpenting untuk mempelajari sejarah Eropa pada Abad Pertengahan.
Direktur British Museum, Nicholas Cullinan, menyebut peminjaman ini sebagai momen bersejarah bagi dunia arkeologi dan sejarah. Menurutnya, kesempatan menghadirkan Bayeux Tapestry ke Inggris merupakan peristiwa yang sangat langka dan memiliki nilai budaya yang tinggi.
Sebagai bagian dari pertukaran koleksi, British Museum juga akan meminjamkan sejumlah artefak penting dari koleksinya kepada museum di Prancis. Program tersebut diharapkan mempererat kerja sama ilmiah dan pelestarian warisan budaya di antara kedua negara.
Sebelum dikirim ke Inggris, Permadani Bayeux akan menjalani proses konservasi menyeluruh untuk memastikan kondisinya tetap terjaga selama proses pemindahan dan pameran. Setelah dipamerkan di London, artefak tersebut akan dikembalikan ke Museum Bayeux di Normandia.
Kembalinya Bayeux Tapestry ke Inggris diperkirakan menjadi salah satu peristiwa budaya terbesar pada 2027. Pameran tersebut diprediksi menarik perhatian sejarawan, peneliti, maupun wisatawan dari berbagai negara yang ingin menyaksikan langsung salah satu artefak paling terkenal dalam sejarah Eropa.







