Metapos.id, Jakarta – Kelompok Houthi Yaman memperingatkan akan memperluas serangan terhadap infrastruktur Arab Saudi jika konflik terus meningkat, termasuk kemungkinan menargetkan bandara dan pelabuhan.
Peringatan tersebut disampaikan anggota Biro Politik Houthi Mohammed al-Bukhaiti dalam wawancara yang disiarkan televisi Al Mayadeen setelah pertempuran kembali meningkat di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman.
“Ada penerobosan, tetapi kami telah menutupnya,” kata al-Bukhaiti, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (8/10/2026).
Al-Bukhaiti merujuk pada serangan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi pada Senin (5/10/2026), yang menurutnya sempat menerobos garis pertahanan Houthi sebelum kemajuan tersebut berhasil dihentikan.
Ia juga mengatakan Houthi memiliki kemampuan militer untuk menutup bandara dan pelabuhan laut Arab Saudi jika permusuhan terus berlanjut.
Peringatan tersebut muncul setelah pasukan pemerintah Yaman melancarkan operasi besar dengan dukungan udara Arab Saudi untuk merebut kembali wilayah di sekitar Selat Bab al-Mandab. Reuters melaporkan pasukan pemerintah telah melakukan serangan balik di kawasan strategis tersebut, sementara Houthi merespons dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi.
Al-Bukhaiti juga menyoroti kemungkinan keterlibatan Turki dan Pakistan dalam konflik tersebut.
Kedua negara pada Senin menyatakan akan segera menjalankan komitmen pertahanan bersama dengan Arab Saudi berdasarkan Mecca Joint Defense Agreement.
Namun, Turki sejauh ini memberikan dukungan yang terutama bersifat teknis dan defensif kepada Arab Saudi, termasuk peralatan militer, intelijen, sistem pertahanan udara, serta dukungan logistik.
Al-Bukhaiti mengatakan Houthi tidak mengharapkan Turki atau Pakistan terlibat langsung dalam operasi tempur di Yaman.
Meski demikian, ia memperingatkan bahwa keterlibatan tidak langsung sekalipun akan dianggap sebagai partisipasi dalam perang dan Houthi siap memberikan respons.
Di tengah ancaman tersebut, al-Bukhaiti menyebut penghentian konflik sebagai “kepentingan bersama” karena deeskalasi dinilai dapat memberikan keuntungan bagi Arab Saudi maupun Yaman.
Pertempuran terbaru berlangsung di sekitar Bab al-Mandab, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute penting perdagangan global. Houthi sebelumnya berhasil menguasai kota pelabuhan Mocha dan wilayah di sekitar selat tersebut, sementara pasukan yang didukung Saudi berupaya merebut kembali kawasan strategis itu.
Konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak 2014 ketika Houthi merebut Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara, yang kemudian mendorong Arab Saudi memimpin intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.






