Metapos.id, Jakarta — Kekurangan nutrisi tertentu disebut memiliki kaitan dengan kondisi kesehatan mental, termasuk gangguan kecemasan. Salah satu nutrisi yang mulai banyak diperhatikan adalah kolin.
Ahli diet terdaftar Lauren Manaker, MS, RDN, LD, CLEC, CPT, menjelaskan bahwa kolin kini menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai kesehatan otak. Sebuah penelitian yang terbit pada 2025 menemukan hubungan antara kadar kolin yang rendah di otak dan gangguan kecemasan.
Mengenal Peran Kolin bagi Tubuh
Kolin merupakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi penting. Nutrisi ini berperan dalam pembentukan struktur sel, produksi DNA, serta mendukung sistem saraf.
“Nutrisi ini juga menjadi fondasi penting bagi asetilkolin, yaitu zat pembawa pesan di otak yang bertugas mengatur suasana hati, ingatan, dan kendali otot,” terang Manaker.
Tubuh memang dapat menghasilkan sebagian kecil kolin melalui organ hati. Namun, kebutuhan utama kolin tetap perlu dipenuhi melalui makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Penelitian Menemukan Kaitannya dengan Kecemasan
Perkembangan teknologi pemeriksaan otak membantu peneliti melihat lebih jauh perubahan kimia yang berkaitan dengan gangguan kecemasan.
Salah satu metode yang digunakan adalah proton magnetic resonance spectroscopy (1H-MRS). Teknik tersebut memungkinkan peneliti mengamati komposisi kimia di dalam otak.
Analisis terhadap lebih dari 20 penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Psychology menemukan adanya perbedaan kadar senyawa kolin pada otak orang dengan gangguan kecemasan.
Penelitian berjudul “Transdiagnostic reduction in cortical choline-containing compounds in anxiety disorders: a 1H-magnetic resonance spectroscopy meta-analysis” tersebut menunjukkan kadar senyawa kolin (tCho) lebih rendah secara konsisten pada sejumlah area otak, termasuk korteks prefrontal.
Manaker menjelaskan korteks prefrontal memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan sekaligus mengatur respons tubuh terhadap rasa takut dan stres.
“Korteks prefrontal sendiri berfungsi layaknya pusat kendali otak yang membantu proses pengambilan keputusan serta mengatur respons terhadap rasa takut maupun stres,” jelas Manaker.
“Saat kadar kolin di area ini merosot tajam, bagian otak yang bertugas berpikir logis akan kesulitan menenangkan sinyal panik dari bagian otak yang cemas,” imbuhnya.
Para peneliti menduga kondisi kecemasan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat otak menggunakan kolin lebih banyak untuk mempertahankan sel dan fungsi saraf. Asupan makanan yang tidak mencukupi kemudian dapat memengaruhi keseimbangan fungsi otak.
Kolin Bukan Pengganti Pengobatan
Meski terdapat hubungan antara kadar kolin dan kecemasan, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa kekurangan kolin secara langsung menyebabkan gangguan kecemasan.
Para ahli masih belum dapat memastikan apakah rendahnya kadar kolin menjadi pemicu kecemasan atau justru kecemasan yang menyebabkan kadar kolin menurun.
Di sisi lain, kolin tetap memiliki fungsi penting bagi tubuh, mulai dari mendukung kesehatan otak, menjaga struktur sel hingga membantu fungsi hati.
Karena itu, peningkatan asupan kolin tidak dapat dijadikan alasan untuk menghentikan terapi atau pengobatan yang sedang dijalani.
Kolin juga tidak dapat menggantikan obat, terapi, maupun perawatan dari tenaga kesehatan mental profesional.
Sumber Makanan yang Mengandung Kolin
National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat merekomendasikan asupan kolin sekitar 425 miligram per hari untuk perempuan dewasa sehat. Sementara itu, laki-laki dewasa membutuhkan sekitar 550 miligram per hari.
Kebutuhan tersebut dapat meningkat pada perempuan yang sedang hamil atau menyusui.
Telur menjadi salah satu sumber kolin yang mudah diperoleh. Satu butir telur berukuran besar mengandung sekitar 147 miligram kolin, dengan kandungan yang banyak terdapat pada bagian kuning telur.
Selain telur, kebutuhan kolin dapat diperoleh dari sejumlah sumber makanan lain.
“Kamu juga bisa rutin menyantap daging tanpa lemak seperti daging ayam maupun sapi. Mengonsumsi ikan berlemak seperti salmon, kod, atau nila juga disarankan karena ikan-ikan tersebut kaya akan asam lemak omega-3 yang bagus untuk perlindungan otak,” Manaker berujar.
Susu sapi dan produk olahannya juga dapat menjadi pilihan untuk menambah asupan kolin.
Bagi yang lebih memilih sumber pangan nabati, kolin dapat ditemukan dalam kedelai seperti edamame dan tahu. Pilihan lainnya antara lain brokoli, kembang kol, kubis Brussel, kentang, kacang merah, serta kinoa.
Kandungan kolin dari sejumlah bahan nabati memang cenderung lebih rendah dibandingkan beberapa sumber hewani. Meski demikian, makanan tersebut tetap dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi.
Suplemen kolin juga tersedia bagi orang yang merasa kebutuhan hariannya belum tercukupi. Namun, penggunaannya sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.






