Metapos.id, Jakarta – Perdebatan tentang kecerdasan buatan atau AI selama ini banyak berkutat pada kekhawatiran teknologi tersebut akan mengambil alih pekerjaan manusia.
Namun, ada persoalan lain yang mulai mendapat perhatian, yakni risiko manusia terlalu bergantung pada AI hingga kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara mandiri ikut menurun.
CEO OpenAI Sam Altman sebelumnya juga memperingatkan para pemimpin dunia di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai risiko perkembangan AI tanpa regulasi.
Sementara itu, Cornelia Walther, peneliti dari Wharton School, menggunakan istilah agency decay untuk menggambarkan fenomena ketika kemampuan dan keinginan seseorang untuk mengamati, berpikir mandiri, memilih secara sadar, serta bertindak secara bertanggung jawab mengalami erosi secara bertahap.
“Alat yang tadinya membantu kita berpikir, perlahan mulai berpikir di sekitar kita,” tulis Walther, dikutip dari berbagai sumber, Selasa (29/09/2026).
Ketika AI Menggantikan Proses Berpikir
Fenomena tersebut berkaitan dengan konsep cognitive offloading, yakni ketika seseorang mengalihkan sebagian beban berpikir kepada alat atau teknologi.
Perbedaannya terlihat dari cara seseorang menggunakan AI. AI dapat digunakan untuk menguji asumsi, mencari alternatif, dan menantang hasil pemikiran yang sudah dibuat manusia.
Namun, AI juga bisa menjadi sumber utama untuk menyusun analisis, membuat argumen, hingga mengambil keputusan. Dalam kondisi tersebut, manusia berisiko semakin jarang menggunakan kemampuan penalarannya sendiri.
Sejumlah penelitian yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran mengenai dampak penggunaan AI terhadap kemampuan kognitif.
Studi MIT Media Lab disebut menemukan partisipan yang menggunakan ChatGPT untuk menulis esai memiliki konektivitas saraf lebih lemah dibandingkan kelompok yang menulis tanpa bantuan. Sebanyak 83 persen partisipan juga disebut tidak mampu mengutip satu kalimat dari teks yang baru mereka hasilkan.
Uji coba yang melibatkan lebih dari 1.200 partisipan dari Carnegie Mellon, Oxford, MIT, dan UCLA juga disebut menemukan bahwa bantuan AI selama 10 menit dapat mengurangi kemampuan pemecahan masalah secara mandiri setelah alat tersebut tidak lagi digunakan.
Survei BCG terhadap 70 eksekutif tingkat C-suite juga mencatat sekitar separuh responden telah melihat erosi keterampilan di perusahaan mereka. Lebih dari 60 persen memperkirakan persoalan tersebut dapat menjadi ancaman dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Risiko di Sektor Penting
Dampak ketergantungan terhadap AI juga disebut mulai terlihat di sektor-sektor yang membutuhkan kemampuan analisis tinggi.
Laporan Keamanan AI Internasional mencatat adanya penurunan kemampuan dokter dalam mendeteksi tumor tanpa bantuan AI sebesar 6 persen setelah tiga bulan sistem tersebut diperkenalkan di rumah sakit.
Mohammad Jarrahi, ilmuwan informasi dari University of North Carolina, menilai pola otomatisasi yang membuat AI menangani tugas rutin sementara manusia hanya menangani pengecualian dapat menimbulkan persoalan.
Karyawan justru bisa mendapatkan tugas yang paling rumit ketika kemampuan analisis mereka tidak cukup terlatih karena selama ini sebagian proses berpikir telah dialihkan kepada AI.
Keterampilan AI dan Tantangan Pekerja
Di sisi lain, kebutuhan terhadap keterampilan AI terus meningkat di pasar kerja. Data PwC’s 2026 Global AI Jobs Barometer menunjukkan pekerja dengan keterampilan AI mendapatkan premi upah hingga 62 persen.
Posisi tingkat pemula yang berkaitan dengan AI juga disebut tujuh kali lebih sering membutuhkan kemampuan tingkat senior, seperti kepemimpinan dan judgment atau pertimbangan matang.
Kondisi tersebut menciptakan tantangan bagi perusahaan. AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi kemampuan manusia tetap perlu diasah agar tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.
Jika adopsi AI tidak diimbangi dengan pengembangan kemampuan manusia, perusahaan berisiko memiliki tenaga kerja yang kesulitan bekerja ketika teknologi tersebut tidak tersedia.
Pada akhirnya, penggunaan AI bukan hanya soal seberapa banyak pekerjaan yang dapat diserahkan kepada mesin. Cara manusia mempertahankan kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan menguji hasil AI juga menjadi bagian penting dalam perkembangan teknologi tersebut.







