Metapos.id, Jakarta – Sejarah Islam mencatat munculnya berbagai aliran dan kelompok pemikiran yang berkembang seiring perjalanan umat. Perbedaan yang pada awalnya banyak berkaitan dengan persoalan politik dan kepemimpinan kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai akidah, iman, qadar, sifat-sifat Allah, Al-Qur’an, serta kepemimpinan keagamaan.
Dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ menjadi sumber utama dalam memahami agama dengan merujuk pada pemahaman generasi awal umat Islam. Karena itu, mempelajari aliran dalam sejarah Islam dapat membantu memahami latar belakang munculnya berbagai pemikiran sekaligus mengenali perbedaan prinsip yang berkembang dalam sejarah.
Salah satu kelompok awal yang dikenal adalah Khawarij yang kemunculannya berkaitan dengan peristiwa tahkim dalam konflik antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah sekitar 37 H atau 657 M. Setelah itu berkembang Qadariyah dan Jabariyah yang membahas hubungan kehendak manusia dengan qadar Allah, sementara pemikiran yang dikaitkan dengan Jahmiyah membahas persoalan sifat-sifat Allah, iman, dan qadar.
Pada awal abad ke-2 Hijriah, Mu’tazilah berkembang dengan memberikan kedudukan besar kepada akal dalam persoalan teologi. Beberapa doktrin yang dikenal dalam sejarah pemikiran Mu’tazilah antara lain pandangan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk dan konsep al-manzilah bainal manzilatain dalam persoalan pelaku dosa besar, sementara Murji’ah berkembang dalam perdebatan mengenai hakikat iman dan hubungan antara iman dengan amal.
Syiah memiliki sejarah panjang dan berkembang menjadi berbagai cabang, di antaranya Zaidiyah, Ismailiyah, dan Imamiyah Itsna ‘Asyariyah. Salah satu persoalan yang membedakan sebagian tradisi Syiah dengan Sunni adalah konsep imamah, yakni keyakinan mengenai kepemimpinan khusus para imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib menurut tradisi tertentu dalam Syiah.
Perkembangan pemikiran keagamaan juga berlanjut pada masa modern dengan munculnya berbagai gerakan, salah satunya Ahmadiyah yang didirikan Mirza Ghulam Ahmad pada 1889 di Qadian, India. Salah satu persoalan teologis yang membedakannya dari pemahaman Sunni berkaitan dengan klaim Mirza Ghulam Ahmad sebagai al-Masih dan al-Mahdi, sementara dalam pemahaman Sunni Muhammad ﷺ berdasarkan QS Al-Ahzab ayat 40 merupakan Khatam an-Nabiyyin atau penutup para nabi.
Mempelajari berbagai aliran dalam sejarah Islam tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan untuk memahami sejarah, latar belakang, argumentasi, dan perbedaan pemikiran secara ilmiah. Pembahasan tersebut juga perlu disertai kehati-hatian dalam persoalan takfir karena penilaian terhadap suatu pemikiran atau doktrin tidak otomatis memberikan hukum yang sama kepada setiap individu yang dinisbatkan kepada kelompok tersebut.
Sejarah berbagai aliran menunjukkan bahwa perbedaan pemikiran dapat muncul karena faktor politik, sosial, intelektual, maupun pemahaman terhadap dalil agama. Mengenal sejarah tersebut dapat menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah serta mengenali perkembangan pemikiran Islam, dengan tetap mengedepankan ilmu dan adab agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling mencaci atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan akhlak Islam.







