Metapos.id, Jakarta — Sejumlah partai politik mulai memperkuat strategi komunikasi digital dengan menggandeng influencer. Langkah tersebut dilakukan untuk menjangkau pemilih yang semakin banyak memperoleh informasi politik melalui media sosial.
Kehadiran influencer dinilai dapat membantu partai membangun kedekatan dengan masyarakat. Selain meningkatkan interaksi di dunia maya, strategi tersebut juga diharapkan mampu memperluas basis dukungan politik.
Namun, seberapa efektif influencer dalam mendongkrak perolehan suara partai?
Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto, menilai kekuatan utama influencer bukan terletak pada kemampuan mereka membahas kebijakan secara mendalam. Pengaruh mereka lebih terlihat dalam membuat tokoh atau pesan politik terus diingat masyarakat.
“Efektivitasnya bukan di debat kebijakan, tapi di “top of mind”. Influencer mengubah politik jadi fandom. Siapa paling viral, dia yang menang,” tutur pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (10/9/2026).
Menurut Agus, media sosial menyediakan ruang yang sangat luas untuk menjangkau calon pemilih. Kondisi tersebut semakin penting karena masyarakat, khususnya pemilih muda, semakin dekat dengan berbagai platform digital.
Salah satu contoh yang dia soroti adalah kemenangan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024. Menurutnya, keberhasilan tersebut juga dipengaruhi kemampuan tim kampanye dalam membangun komunikasi politik yang mudah diterima dan cepat menyebar di media sosial.
“Menang karena memonetisasi meme, joget gemoy, dan buzzer-influencer menjadi narasi ‘merakyat’,” kata Agus.
Dia menyebut pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD juga menggunakan influencer dalam strategi kampanye Pilpres 2024. Namun, menurut Agus, strategi tersebut belum mampu menghasilkan narasi yang sekuat dan sekonsisten pasangan Prabowo-Gibran.
Padahal, menurutnya, keunggulan influencer berada pada kemampuan menjaga sebuah figur, pesan, atau isu tetap muncul dalam perhatian publik.
Pemilu 2029 dan Dominasi TikTok
Melihat perkembangan tersebut, Agus memperkirakan Pemilu 2029 berpotensi menjadi pemilu yang semakin kuat dipengaruhi TikTok dan platform media sosial lainnya.
Perubahan strategi kampanye itu juga didorong tingginya biaya politik konvensional. Sebaliknya, media sosial memungkinkan sebuah konten menjangkau jutaan orang dengan biaya yang relatif lebih rendah.
Agus menyebut satu konten yang viral bahkan dapat memperoleh hingga 20 juta tayangan.
“Parpol yang tidak punya divisi “creator” akan kalah di algoritma. Kita akan lihat kaderisasi berbasis jumlah follower, bukan masa kerja partai,” pandang Agus.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa partai politik tidak hanya dituntut memiliki mesin organisasi di lapangan. Kemampuan mengelola konten digital dan membangun figur di media sosial juga semakin menjadi bagian penting dalam persaingan politik menuju Pemilu 2029.







