Metapos.id, Jakarta – CapCut merayakan pertumbuhan komunitas kreatornya melalui gelaran perdana CapCut World untuk kawasan Asia Tenggara yang berlangsung di Singapura pada akhir pekan lalu.
Sejak diluncurkan pada 2020, CapCut berkembang menjadi platform penyuntingan terpadu yang digunakan kreator dan sineas untuk menghasilkan berbagai karya kreatif.
Kini, CapCut telah menjangkau lebih dari 660 juta pengguna di lebih dari 170 pasar dan tersedia dalam 30 bahasa.
Gelaran CapCut World Singapore mempertemukan lebih dari 300 kreator, pemimpin industri, dan anggota tim CapCut untuk berbagi kisah, bertukar pengalaman mengenai proses kreatif, serta mengenal berbagai fitur yang tersedia di platform tersebut.
Salah satu fokus yang diangkat adalah peran komunitas kreator templat. Saat ini, lebih dari 6 juta kreator templat telah menerbitkan lebih dari 400.000 templat baru setiap hari.
CapCut juga memperkenalkan Skills, fitur yang memungkinkan kreator menyimpan dan membagikan gaya, alur kerja, serta teknik di balik sebuah karya.
Salah satu kreator yang memanfaatkan kemampuan tersebut adalah sineas Vee Camallere melalui serial berbasis AI berjudul Featherweight yang telah meraih lebih dari 25 juta penayangan.
“Ketika cerita dalam Featherweight beralih dari satu adegan ke adegan lainnya, saya dapat menggunakan skill yang telah disimpan sebelumnya agar tampilan visualnya tetap konsisten. Kemampuan yang ditawarkan Skills ini menjadikan proses color grading terasa berbeda dengan yang lain,” ujar Vee dalam presentasinya di CapCut World Singapore.
Perkuat Kreativitas dengan AI
CapCut menyebut lebih dari 85 fitur AI telah tersedia di dalam aplikasinya dan membantu komunitas menghasilkan lebih dari 6 miliar kreasi orisinal sepanjang 2026.
Fitur-fitur tersebut mencakup pengembangan ide, penyusunan cerita hingga penyuntingan akhir dalam satu platform.
Melalui AI Lab, misalnya, kreator dapat mengembangkan ide awal berdasarkan visi yang mereka jelaskan di aplikasi.
Ide tersebut kemudian dapat dikembangkan melalui Infinite Canvas untuk merangkai cerita, membangun karakter, hingga mengeksplorasi berbagai pengambilan gambar dan adegan.
Setelah seluruh elemen siap, aset dan konteks kreatif dapat diteruskan ke editor multitrack CapCut dengan dukungan fitur penyuntingan berbasis AI, Edit Pilot.
CapCut juga menerapkan langkah transparansi melalui tanda air tak kasatmata (invisible watermarks) dan Kredensial Konten dari C2PA untuk mendukung proses kreasi yang lebih bertanggung jawab.
Setiap hari, lebih dari 7 juta kreator memanfaatkan fitur AI CapCut, termasuk sineas profesional yang mengembangkan karya berbasis AI.
CapCut turut mengintegrasikan sejumlah model AI seperti Dreamina Seedance untuk video, Dola Seedream untuk gambar, dan Seed Audio untuk audio.
Teknologi tersebut mendukung fitur seperti Video Studio yang memungkinkan kreator melakukan penyesuaian pada bagian tertentu berdasarkan timestamp, karakter, maupun elemen visual tanpa harus membuat ulang seluruh adegan.
Untuk kebutuhan gambar, Design Studio menghadirkan kemampuan penyuntingan interaktif yang memungkinkan pengguna memberikan arahan visual dengan menggambar panah atau melingkari area tertentu.
CapCut World Singapore menjadi pembuka rangkaian perayaan global bagi komunitas kreator. Setelah Singapura, gelaran tersebut dijadwalkan hadir di Los Angeles dan London pada akhir tahun ini.
“Sejak awal, CapCut berupaya menyederhanakan proses pembuatan video agar mudah dilakukan oleh lebih banyak orang,” ujar Xiaoqi Fu, Global Head of CapCut.
“Berangkat dari fondasi tersebut, CapCut terus menyatukan lebih banyak tahapan dalam proses kreatif—mulai dari penyuntingan dan desain hingga berbagai fitur baru—dengan tetap memastikan kendali atas setiap keputusan kreatif berada di tangan pengguna.”







