Metapos.id, Jakarta – Pernah terbangun di pagi hari, kemudian memutuskan untuk tidur kembali dan justru mengalami mimpi yang terasa sangat jelas? Mimpi tersebut terkadang bisa terasa ganjil, penuh emosi, bahkan membuat seseorang membutuhkan waktu untuk menyadari bahwa yang dialami hanyalah mimpi.
Kondisi seperti ini salah satunya dapat dikaitkan dengan sleep inertia, yaitu keadaan ketika otak masih berada dalam masa peralihan dari tidur menuju kondisi terjaga. Akibatnya, tubuh mungkin sudah dapat bergerak dan melakukan aktivitas sederhana, tetapi konsentrasi serta kemampuan berpikir belum sepenuhnya optimal.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, menjelaskan bahwa seluruh bagian otak tidak langsung mencapai tingkat aktivitas yang sama ketika seseorang baru terbangun.
Area otak yang berkaitan dengan kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan menilai sesuatu secara rasional membutuhkan waktu sebelum kembali bekerja secara maksimal.
Situasi tersebut dapat terasa berbeda ketika seseorang kembali memejamkan mata setelah sempat terbangun. Tidur kembali pada pagi hari memungkinkan otak memasuki fase Rapid Eye Movement (REM) dengan relatif cepat. Fase ini dikenal sebagai periode tidur yang banyak dikaitkan dengan munculnya mimpi.
Fase REM juga cenderung lebih dominan menjelang pagi. Ketika waktu tidur sebelumnya terputus, tubuh dapat mengalami REM rebound, yaitu kecenderungan untuk memasuki fase REM lebih cepat atau menghabiskan waktu lebih banyak pada fase tersebut.
Hal itu dapat membuat pengalaman bermimpi terasa lebih hidup, detail, panjang, dan emosional. Aktivitas pada area otak yang berhubungan dengan emosi juga meningkat selama REM. Sementara itu, bagian otak yang berperan dalam penalaran dan logika belum sepenuhnya aktif.
Kombinasi tersebut diduga menjadi salah satu alasan mimpi setelah kembali tidur pada pagi hari terasa lebih nyata, tidak masuk akal, atau bahkan membingungkan ketika seseorang baru saja terbangun.
Untuk menghindari rasa pening atau tidak segar setelah bangun, dr. Decsa menyarankan agar seseorang tidak terlalu sering menekan tombol snooze dan kembali tidur setelah alarm berbunyi.
Sebagai gantinya, tubuh dapat segera diajak beraktivitas dengan memperoleh paparan sinar matahari, mencukupi kebutuhan cairan, serta melakukan peregangan atau gerakan ringan. Langkah sederhana tersebut dapat membantu tubuh beradaptasi dari kondisi tidur menuju keadaan terjaga.







