Metapos.id, Jakarta – Rasa pegal setelah berolahraga kerap dianggap sebagai tanda bahwa latihan yang dilakukan berhasil dan otot bekerja secara maksimal. Namun, para ahli menyebut anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar karena efektivitas olahraga tidak selalu ditentukan oleh munculnya rasa nyeri pada tubuh.
Dokter Kedokteran Olahraga dan Ahli Bedah Ortopedi dari Yale Medicine, Michael Medvecky, menjelaskan bahwa nyeri otot setelah latihan intens biasanya berkaitan dengan adanya cedera mikro pada jaringan otot. Kondisi tersebut merupakan bagian dari proses alami tubuh untuk memperbaiki dan membangun kekuatan otot.
Sensasi pegal yang muncul setelah olahraga dikenal sebagai nyeri otot tertunda atau delayed onset muscle soreness (DOMS). Rasa nyeri ini umumnya terjadi setelah seseorang melakukan aktivitas yang memberikan tekanan lebih besar pada otot, seperti latihan angkat beban atau gerakan yang meregangkan otot secara maksimal.
Menurut Medvecky, proses perbaikan dari robekan kecil pada serat otot justru membantu pembentukan massa otot dan meningkatkan kemampuan fisik. Namun, memaksakan latihan berat ketika tubuh masih mengalami nyeri berlebihan dapat meningkatkan risiko cedera.
Seiring waktu, tubuh akan beradaptasi terhadap jenis latihan yang dilakukan secara rutin. Akibatnya, rasa pegal yang sebelumnya sering muncul bisa berkurang meski olahraga tetap memberikan manfaat bagi kesehatan.
Ahli fisioterapi dan spesialis ortopedi Bohdanna Zazulak menjelaskan bahwa berkurangnya rasa nyeri bukan berarti latihan kehilangan manfaatnya. Untuk menjaga perkembangan fisik, seseorang perlu melakukan variasi latihan dengan menyesuaikan beban, intensitas, durasi, kecepatan, maupun jenis gerakan.







