Metapos.id, Jakarta – Burj Al Babas di Provinsi Bolu, Turki, sempat digadang-gadang menjadi kompleks hunian mewah bergaya kastil yang menyasar pembeli kaya dari Timur Tengah. Namun, proyek bernilai sekitar US$200 juta atau setara Rp3 triliun itu kini justru dikenal sebagai kota mati karena terbengkalai.
Proyek tersebut dikembangkan oleh Sarot Group dengan rencana membangun 732 vila bergaya kastil lengkap dengan berbagai fasilitas premium. Setiap unit ditawarkan dengan harga antara US$370.000 hingga US$530.000 kepada calon pembeli.
Pada awal pengembangannya, Burj Al Babas berhasil menarik minat ratusan investor. Namun, perlambatan ekonomi Turki serta melemahnya nilai tukar lira membuat banyak pembeli membatalkan transaksi mereka.
Kondisi tersebut membuat Sarot Group mengalami kesulitan keuangan hingga akhirnya dinyatakan bangkrut pada 2018. Akibatnya, pembangunan ratusan kastil berhenti sebelum seluruh proyek selesai dikerjakan.
Kini, ratusan bangunan kastil berdiri tanpa penghuni dengan kondisi yang terus mengalami kerusakan. Pemandangan deretan bangunan identik itu bahkan membuat Burj Al Babas dijuluki sebagai salah satu “ghost town” atau kota hantu paling unik di dunia.
Meski sempat terbengkalai selama bertahun-tahun, pengembang menyatakan masih memiliki harapan untuk menghidupkan kembali proyek tersebut. Sejumlah rencana restrukturisasi dan pencarian investor baru pernah diupayakan agar pembangunan dapat dilanjutkan.
Burj Al Babas menjadi contoh bagaimana proyek properti berskala besar dapat gagal akibat kombinasi masalah ekonomi dan pembiayaan. Perubahan kondisi pasar membuat proyek yang awalnya menjanjikan justru berubah menjadi kawasan tanpa aktivitas.
Hingga kini, kompleks kastil tersebut masih menjadi daya tarik wisata karena tampilannya yang tidak biasa. Di sisi lain, Burj Al Babas juga menjadi pengingat bahwa ambisi besar dalam bisnis properti tetap membutuhkan perencanaan finansial yang matang agar tidak berakhir sebagai kota mati.







