Metapos.id, Jakarta – Nama Mohammad Bagher Ghalibaf kini menjadi perhatian di tengah memanasnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Ia disebut-sebut memiliki peran penting dalam komunikasi tidak langsung antara Teheran dan Washington.
Isu ini mencuat setelah Presiden AS Donald Trump mengaku sedang berhubungan dengan sosok yang ia sebut sebagai “tokoh paling dihormati” di Iran. Meski tidak mengungkap identitasnya, sejumlah media internasional mengaitkan pernyataan tersebut dengan Ghalibaf, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran dan dikenal memiliki latar belakang militer.
Tak hanya itu, laporan lain menyebutkan bahwa nama Ghalibaf masuk dalam pertimbangan pihak Gedung Putih sebagai figur strategis dalam kemungkinan perubahan kepemimpinan Iran di masa depan.
Ia bahkan disebut sebagai salah satu kandidat potensial untuk posisi pemimpin tertinggi.
Trump juga mengklaim bahwa komunikasi antara kedua pihak berjalan cukup baik dan konstruktif. Bahkan, menurutnya, hal tersebut sempat memengaruhi keputusan untuk menunda serangan terhadap infrastruktur penting di Iran.
Meski demikian, Ghalibaf langsung membantah kabar tersebut. Ia menegaskan tidak ada negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat dan menyebut informasi yang beredar sebagai hoaks yang sengaja disebarkan untuk memengaruhi pasar global, terutama sektor minyak dan keuangan.
Di sisi lain, pejabat di Washington dilaporkan masih mengkaji sejumlah tokoh dari Iran yang dinilai berpotensi menjadi mitra dalam proses diplomasi ke depan.
Namun hingga kini, belum ada keputusan resmi yang diambil.














