Metapos.id, Jakarta — Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, melayangkan kecaman keras terhadap operasi militer Amerika Serikat ke Iran yang ia nilai sebagai upaya perubahan rezim. Menurutnya, kebijakan tersebut membahayakan keselamatan personel militer AS serta menyeret negara itu ke dalam konflik yang tidak mendapat dukungan publik.
Melalui pernyataan di akun X resminya, Harris menegaskan penolakannya terhadap perang yang dianggapnya lahir dari kepentingan politik Presiden AS, Donald Trump. Ia menyebut langkah tersebut sebagai “perang pilihan”, bukan kebutuhan strategis nasional, yang justru menempatkan tentara Amerika dalam posisi berisiko tinggi. Pernyataan itu dikutip oleh media The Hill.
Harris juga menilai operasi militer terhadap Iran sebagai tindakan yang tidak perlu dan sarat risiko. Ia menuding Trump mengingkari janji kampanye yang sebelumnya menyatakan komitmen untuk mengakhiri konflik, bukan memulainya. Menurutnya, klaim keberhasilan menghancurkan program nuklir Iran juga tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Selain itu, Harris bersama suaminya, Doug Emhoff, menyampaikan doa dan solidaritas bagi para prajurit Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa para tentara berhak berada di bawah kepemimpinan yang mengambil keputusan perang dan perdamaian secara bijaksana, bertanggung jawab, serta berlandaskan pertimbangan moral dan etika.
Dalam pernyataan lanjutan, Harris menyebut serangan ke Iran sebagai langkah yang tidak bijak, tidak memiliki legitimasi publik, dan tidak didukung oleh mayoritas rakyat Amerika. Ia juga menyoroti tidak adanya persetujuan Kongres dalam keputusan tersebut, yang menurutnya bertentangan dengan prinsip konstitusional.
Harris kemudian menyerukan agar Kongres menggunakan seluruh kewenangannya untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut, sekaligus menghentikan keterlibatan Amerika Serikat dalam perang yang dinilainya sebagai konflik pilihan politik, bukan kebutuhan nasional.













