Metapos.id, Jakarta – Februari 2026 tercatat hanya memiliki 28 hari. Hal ini kerap menimbulkan pertanyaan, mengingat bulan lain dalam kalender umumnya berjumlah 30 atau 31 hari. Penjelasannya berkaitan erat dengan sejarah panjang sistem penanggalan dan perhitungan astronomi.
Jejak Kalender Romawi Kuno
Dalam sejarahnya, kalender Romawi awalnya hanya terdiri dari 10 bulan, dimulai dari Maret hingga Desember. Sistem ini belum mengenal Januari dan Februari. Karena tidak selaras dengan siklus musim dan peredaran Matahari, kalender tersebut kemudian direformasi pada masa Raja Numa Pompilius sekitar 713 SM.
Pada masa inilah Januari dan Februari ditambahkan. Februari ditempatkan sebagai bulan terakhir dalam satu tahun dan diberi 28 hari. Angka tersebut diyakini memiliki makna simbolis dalam tradisi Romawi, karena Februari sering dikaitkan dengan ritual penyucian dan penghormatan kepada dewa-dewa.
Reformasi oleh Julius Caesar
Perubahan besar kembali terjadi pada 45 SM ketika Julius Caesar memperkenalkan kalender Julian. Sistem ini disusun berdasarkan perhitungan satu tahun matahari yang berlangsung sekitar 365,25 hari. Untuk menyesuaikan kelebihan seperempat hari tersebut, ditetapkanlah satu hari tambahan setiap empat tahun atau yang kini dikenal sebagai tahun kabisat.
Meski demikian, Februari tetap dipertahankan sebagai bulan terpendek dengan 28 hari, sementara pada tahun kabisat jumlahnya menjadi 29 hari.
Penyempurnaan Kalender Gregorian
Pada 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian guna memperbaiki selisih kecil dalam kalender Julian. Perhitungan tahun matahari diperhalus menjadi sekitar 365,2422 hari. Walaupun ada penyesuaian teknis, susunan jumlah hari setiap bulan tidak diubah, termasuk Februari yang tetap menjadi bulan dengan hari paling sedikit.
Penjelasan Ilmiah
Secara astronomi, satu tahun tidak dapat dibagi rata menjadi 12 bulan dengan jumlah hari yang sama tanpa menghasilkan kelebihan hari. Jika semua bulan berisi 30 atau 31 hari, totalnya akan melampaui 365 hari. Karena itu, satu bulan harus dibuat lebih pendek untuk menyeimbangkan perhitungan. Warisan sejarah membuat Februari mempertahankan posisi tersebut hingga sekarang.
Dengan demikian, Februari 2026 hanya memiliki 28 hari karena bukan tahun kabisat. Kombinasi faktor sejarah Romawi dan kebutuhan penyesuaian dengan siklus Matahari menjadikan Februari bulan yang unik dalam kalender modern.













