Metapos.id, Jakarta – Kekhawatiran terhadap masa depan industri kelapa sawit nasional mencuat. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) yang juga menjabat Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga, mengingatkan bahwa perkebunan sawit Indonesia berpotensi menghadapi kondisi kritis pada 2030 apabila praktik pengelolaan lahannya tidak segera diperbaiki.
Dalam sebuah acara di Jakarta, Sahat menuturkan bahwa ketergantungan berlebihan pada pupuk kimia tanpa diimbangi upaya pemulihan kesuburan tanah bisa mempercepat degradasi lahan. Jika kondisi ini terus berlangsung, produktivitas sawit dikhawatirkan menurun drastis hingga mengancam keberlanjutan industri.
Menurutnya, pendekatan pertanian regeneratif menjadi kunci untuk menjaga kesehatan tanah. Konsep ini menitikberatkan pada perbaikan struktur dan kandungan organik tanah agar tetap subur dalam jangka panjang. Tanah yang terus dieksploitasi tanpa proses pemulihan, kata dia, ibarat tubuh yang dipaksa bekerja tanpa istirahat.
Salah satu solusi yang didorong adalah pemanfaatan pupuk organik berbasis biomassa atau limbah perkebunan yang diolah kembali menjadi kompos (bio-organic fertilizer). Dengan metode composting tersebut, penggunaan pupuk kimia dapat ditekan secara signifikan. Ia mencontohkan praktik di Sabah, Malaysia, yang telah mengurangi konsumsi pupuk kimia melalui strategi serupa.
Sahat menegaskan, tantangan utama industri sawit bukan pada perluasan lahan, melainkan optimalisasi lahan yang sudah ada. Intensifikasi produksi melalui perbaikan kualitas tanah dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan membuka kebun baru.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menyiapkan kolaborasi dengan China untuk mengimplementasikan sistem pertanian regeneratif. Dalam rencana tersebut, sekitar 42% biomassa dari perkebunan akan diolah kembali menjadi kompos guna mendukung siklus nutrisi alami tanah.
Dengan luas perkebunan sawit nasional sekitar 16 juta hektare, Sahat memproyeksikan penerapan strategi ini secara konsisten dapat meningkatkan nilai ekonomi industri secara signifikan. Ia memperkirakan potensi pendapatan bisa mencapai sekitar US$120 miliar pada 2029, naik dari posisi saat ini yang berada di kisaran US$60 miliar, tanpa perlu ekspansi lahan tambahan.
Peringatan tersebut menjadi sinyal penting bahwa transformasi menuju praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan perlu segera diwujudkan demi menjaga daya saing sekaligus masa depan industri sawit Indonesia.













