Friday, October 2, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

“Ironi PBI JK: Warga Mampu Terdaftar, Jutaan Warga Miskin Justru Tak Tercakup”

Taufik Hidayat by Taufik Hidayat
9 February 2026
in Nasional
“Ironi PBI JK: Warga Mampu Terdaftar, Jutaan Warga Miskin Justru Tak Tercakup”

Metapos.id, Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan bahwa sebanyak 54 juta penduduk yang berada dalam kelompok Desil 1 hingga Desil 5 hingga kini belum tercatat sebagai penerima Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JK). Di sisi lain, sekitar 15 juta warga yang masuk dalam kelompok Desil 6 hingga Desil 10 justru tercantum sebagai penerima bantuan tersebut.

Menurut Gus Ipul, kelompok Desil 1–5 merupakan lapisan masyarakat dari kategori sangat miskin hingga menengah, sedangkan Desil 6–10 mencakup kelompok masyarakat kelas menengah hingga menengah atas.

BACA JUGA

Polemik Klaster Mewah Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mengundurkan Diri

Suyudi Ario Seto Naik Jadi Kapolri, Begini Rekam Jejaknya

“Jumlah warga pada Desil 1 sampai 5 yang belum terlayani PBI JK masih sangat besar, lebih dari 54 juta jiwa,” ujar Gus Ipul dalam Rapat Konsultasi bersama pimpinan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026).

Ia mengakui adanya ketidaksesuaian sasaran dalam pendataan penerima bantuan. Pasalnya, jutaan warga yang seharusnya tidak masuk kategori penerima justru tercatat sebagai penerima PBI JK.

“Sementara warga Desil 6 sampai 10 dan non-desil jumlahnya mencapai lebih dari 15 juta jiwa. Ini membutuhkan penjelasan dan klarifikasi lebih lanjut dari BPS terkait sistem klasifikasi dan basis datanya,” tuturnya.

Situasi tersebut mencerminkan masih lemahnya validasi dan akurasi data penerima bantuan sosial. Karena itu, pemerintah berencana melakukan evaluasi menyeluruh serta pembaruan data agar program PBI JK benar-benar tepat sasaran dan menyentuh kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

Tags: BantuanBpsDPR RIGus IpulmasyarakatMenengahMensosMetapos.idPBI JKpenerima
Previous Post

“Ratusan WNI Korban Sindikat Scam Online Dipulangkan dari Kamboja”

Next Post

Pemerintah Aktifkan Kembali 11 Juta PBI BPJS, Menkeu Beri Waktu Pemutakhiran Data 3 Bulan

Related Posts

Polemik Klaster Mewah Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mengundurkan Diri
Nasional

Polemik Klaster Mewah Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mengundurkan Diri

1 October 2026
Suyudi Ario Seto Naik Jadi Kapolri, Begini Rekam Jejaknya
Nasional

Suyudi Ario Seto Naik Jadi Kapolri, Begini Rekam Jejaknya

1 October 2026
Karier Dudung Abdurachman Melesat, Kini Jadi Menko Polkam
Nasional

Karier Dudung Abdurachman Melesat, Kini Jadi Menko Polkam

1 October 2026
Reshuffle Kabinet Prabowo, Sejumlah Menteri dan Pejabat Berganti
Nasional

Reshuffle Kabinet Prabowo, Sejumlah Menteri dan Pejabat Berganti

1 October 2026
5 Tahun Lebih Pimpin Polri, Listyo Sigit Digantikan Suyudi
Nasional

5 Tahun Lebih Pimpin Polri, Listyo Sigit Digantikan Suyudi

1 October 2026
Jadi Kapolri, Suyudi Siapkan Penindakan terhadap Debt Collector
Nasional

Jadi Kapolri, Suyudi Siapkan Penindakan terhadap Debt Collector

1 October 2026
Next Post
51 Persen Masyarakat Indonesia Simpan Uang di Bawah Bantal

Pemerintah Aktifkan Kembali 11 Juta PBI BPJS, Menkeu Beri Waktu Pemutakhiran Data 3 Bulan

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini