Thursday, May 7, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

AI Masuk Proses Rekrutmen, Bukannya Efisien Justru Bikin Perusahaan dan Pelamar Sama-Sama Kewalahan

Desti Dwi Natasya by Desti Dwi Natasya
22 December 2025
in Ekbis
AI Masuk Proses Rekrutmen, Bukannya Efisien Justru Bikin Perusahaan dan Pelamar Sama-Sama Kewalahan

Metapos.id, Jakarta – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam proses rekrutmen kini telah menjadi praktik umum, bukan lagi sekadar eksperimen. Namun, alih-alih mempercepat dan mempermudah perekrutan, teknologi ini justru memunculkan persoalan baru yang membuat perusahaan dan pencari kerja sama-sama frustrasi.

 

BACA JUGA

Disertasi Doktoral Soroti Urgensi RUU Transfer Pricing untuk Perkuat Kepastian Hukum dan Penerimaan Negara

Pinjol RI Meledak ke Rp101 Triliun, OJK Ingatkan Risiko dan Pengawasan

Di tengah melemahnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat, penggunaan wawancara berbasis AI serta surat lamaran yang dihasilkan secara otomatis telah mengubah cara orang melamar pekerjaan secara drastis—dan tidak selalu membawa dampak positif.

 

Survei Society for Human Resource Management menunjukkan lebih dari separuh organisasi menggunakan AI dalam proses rekrutmen pada 2025. Di sisi lain, sekitar sepertiga pengguna ChatGPT dilaporkan memanfaatkan chatbot buatan OpenAI itu untuk membantu menyusun lamaran kerja.

 

Ironisnya, sejumlah riset terbaru menemukan bahwa penggunaan AI oleh pelamar justru menurunkan peluang mereka untuk diterima. Sementara itu, perusahaan harus menghadapi lonjakan jumlah lamaran yang masuk.

“Kemampuan perusahaan untuk benar-benar memilih kandidat terbaik bisa saja justru menurun karena AI,” kata Anaïs Galdin, peneliti Dartmouth yang turut meneliti dampak large language model (LLM) terhadap surat lamaran.

 

Bersama Jesse Silbert dari Princeton, Galdin menganalisis puluhan ribu surat lamaran di platform Freelancer.com. Mereka menemukan bahwa sejak kemunculan ChatGPT pada 2022, surat lamaran menjadi lebih panjang dan lebih rapi dari sisi bahasa. Namun, perusahaan justru semakin mengabaikan surat tersebut sebagai alat seleksi utama.

 

Akibatnya, proses penyaringan kandidat menjadi kurang efektif, tingkat perekrutan menurun, dan rata-rata gaji awal ikut tertekan. “Tanpa perbaikan dalam aliran informasi antara pekerja dan perusahaan, hasil akhirnya memang seperti ini,” ujar Silbert.

 

Lonjakan jumlah pelamar mendorong banyak perusahaan mengotomatisasi tahap wawancara. Survei Greenhouse pada Oktober lalu mencatat 54% pencari kerja di AS mengaku pernah menjalani wawancara yang dipimpin AI.

 

Wawancara virtual memang meningkat sejak pandemi 2020. Kini, AI sering digunakan untuk mengajukan pertanyaan dan menilai jawaban kandidat. Namun, bias dinilai belum sepenuhnya hilang.

 

“Algoritma bisa meniru, bahkan memperbesar, bias manusia,” kata Djurre Holtrop, peneliti yang mengkaji wawancara video asinkron dan penggunaan AI dalam rekrutmen.

 

CEO Greenhouse, Daniel Chait, menyebut penggunaan AI oleh kedua belah pihak—pelamar yang mengirim ratusan lamaran otomatis dan perusahaan yang membalas dengan sistem otomatis—sebagai “lingkaran kehancuran”.

 

“Kedua sisi akhirnya berkata, ‘Ini tidak masuk akal, ini tidak bekerja, semuanya justru memburuk,’” ujarnya.

 

Penolakan Mulai Menguat

Meski pasar teknologi rekrutmen diperkirakan mencapai US$3,1 miliar tahun ini, resistensi terhadap AI dalam perekrutan mulai meningkat. Legislator negara bagian, serikat pekerja, hingga individu menyuarakan kekhawatiran soal potensi diskriminasi.

 

Presiden AFL-CIO, Liz Shuler, menyebut penggunaan AI dalam perekrutan sebagai “tidak dapat diterima”. Menurutnya, sistem AI berisiko menyingkirkan kandidat yang sebenarnya memenuhi syarat hanya berdasarkan faktor sewenang-wenang seperti nama, kode pos, atau ekspresi wajah.

 

Beberapa negara bagian seperti California, Colorado, dan Illinois tengah merancang regulasi untuk mengatur penggunaan AI dalam rekrutmen. Namun, perintah eksekutif Presiden Donald Trump yang baru-baru ini dikeluarkan berpotensi melemahkan aturan tingkat negara bagian dan menciptakan ketidakpastian hukum.

 

Meski demikian, hukum anti-diskriminasi tetap berlaku, termasuk terhadap perusahaan yang menggunakan AI. Gugatan hukum pun mulai bermunculan, salah satunya dari seorang perempuan tunarungu yang menggugat perusahaan perekrutan berbasis AI HireVue karena sistem wawancara otomatis yang dinilai tidak ramah disabilitas.

 

HireVue membantah tuduhan tersebut dan menyatakan teknologinya justru dirancang untuk mengurangi bias.

 

Hilangnya Sentuhan Manusia

Meski AI disebut dapat membuka peluang bagi kandidat yang sebelumnya terlewatkan, banyak pencari kerja merasa kehilangan unsur manusia dalam proses rekrutmen.

 

Jared Looper, manajer proyek IT asal Utah, menceritakan pengalamannya diwawancarai sistem berbasis AI. Ia menggambarkan proses tersebut terasa “dingin” dan mengaku sempat menutup panggilan saat pertama kali dihubungi.

 

Looper khawatir banyak orang belum siap menghadapi realitas baru perekrutan, di mana kemampuan “menyenangkan algoritma” menjadi keterampilan penting.

 

“Banyak orang hebat bisa saja tertinggal,” katanya.

Tags: AIkecerdasan buatanMetapos.id
Previous Post

AS Kembali Sita Kapal di Perairan Venezuela, Tekanan Era Trump Terhadap Caracas Meningkat

Next Post

Korea Selatan Siap Bangun Kapal Selam Nuklir untuk Tambah Kekuatan AS di Pasifik

Related Posts

Disertasi Doktoral Soroti Urgensi RUU Transfer Pricing untuk Perkuat Kepastian Hukum dan Penerimaan Negara
Ekbis

Disertasi Doktoral Soroti Urgensi RUU Transfer Pricing untuk Perkuat Kepastian Hukum dan Penerimaan Negara

6 May 2026
Pinjol RI Meledak ke Rp101 Triliun, OJK Ingatkan Risiko dan Pengawasan
Ekbis

Pinjol RI Meledak ke Rp101 Triliun, OJK Ingatkan Risiko dan Pengawasan

6 May 2026
Harga Bahan Pokok 6 Mei 2026 Fluktuatif, Cabai Turun Tajam Sementara Gula Naik
Ekbis

Harga Bahan Pokok 6 Mei 2026 Fluktuatif, Cabai Turun Tajam Sementara Gula Naik

6 May 2026
Pasar Modal Indonesia Gelar Donor Darah dan Edukasi Talasemia
Ekbis

Pasar Modal Indonesia Gelar Donor Darah dan Edukasi Talasemia

5 May 2026
Tips Menyiapkan Dana Pendidikan Anak di Tengah Kenaikan Biaya Sekolah
Ekbis

Tips Menyiapkan Dana Pendidikan Anak di Tengah Kenaikan Biaya Sekolah

5 May 2026
Transjakarta Blok M–Soetta Segera Beroperasi, Pramono Pastikan Tarif Terjangkau
Ekbis

SPBU Tak Jual Pertalite, Ini Penjelasan Pertamina Soal Status Signature

5 May 2026
Next Post
AI Masuk Proses Rekrutmen, Bukannya Efisien Justru Bikin Perusahaan dan Pelamar Sama-Sama Kewalahan

Korea Selatan Siap Bangun Kapal Selam Nuklir untuk Tambah Kekuatan AS di Pasifik

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini