Metapos.id, Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan belum memiliki gambaran lengkap mengenai dugaan kasus penyakit pes di Rusia setelah seorang pekerja laboratorium di Siberia meninggal dunia pekan lalu.
Pekerja tersebut, Darya Shipilova (28), meninggal dua hari setelah mengalami gejala yang menyerupai flu. Ia diketahui bekerja di sebuah institut penelitian antiwabah di Irkutsk, Rusia timur.
Sejumlah laporan menyebut Shipilova diduga terinfeksi setelah mengalami kecelakaan kerja di laboratorium. Namun, otoritas Rusia membantah adanya hubungan antara kematiannya dan tempat ia bekerja.
Pemerintah Rusia menyatakan Shipilova meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui. Rusia juga menegaskan tidak ada ancaman wabah penyakit pes dan kondisi sanitasi serta epidemiologi di wilayah tersebut tetap stabil.
Meski demikian, karantina ketat diterapkan di laboratorium tempat Shipilova bekerja dan rumah sakit terdekat. Para pekerja bahkan sempat tidak diperbolehkan keluar dari institut selama tiga hari sambil menjalani pemeriksaan.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pihaknya masih membutuhkan informasi lebih lengkap dari pemerintah Rusia.
“Kita belum memiliki gambaran lengkap tentang peristiwa ini dan belum dapat melakukan penilaian risiko secara menyeluruh,” kata Tedros dikutip dari berbagai sumber, Kamis (08/10/2026).
Tedros meminta Rusia memberikan informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan untuk menjelaskan laporan yang saling bertentangan mengenai kasus tersebut. WHO juga meminta penjelasan soal laporan media yang menyebut kemungkinan adanya pekerja kedua mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
“Kami mengevaluasi setiap laporan dari masyarakat. Kami meminta Rusia untuk menanggapi hal itu. Kami sedang menunggu jawabannya,” ujar Tedros.
Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO Maria Van Kerkhove mengatakan pihaknya juga belum mengetahui bagaimana Shipilova pertama kali terinfeksi maupun penyakit yang sebenarnya menyebabkan kematiannya.
“Jika pneumonia dikesampingkan, sebenarnya dia meninggal karena apa?” kata Kerkhove.
Ibu Shipilova, Svetlana (64), turut membantah dugaan bahwa putrinya terinfeksi setelah memecahkan tabung reaksi di laboratorium.
“Saya tahu yang sebenarnya. Saya sedang membela diri dari teman-teman bodoh yang mempercayai ini. Tabung reaksi tidak bisa pecah, bahkan jika Anda melemparkannya ke dinding,” ujar Svetlana dalam wawancara dengan media lokal.
Svetlana menggambarkan putrinya sebagai pekerja yang berdedikasi, tulus, dan sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Mantan teman sekelas Shipilova juga meragukan dugaan bahwa ia tertular penyakit di tempat kerja.
Di sisi lain, Kremlin berusaha meredam kekhawatiran mengenai insiden tersebut. Rusia juga menolak tawaran bantuan dari Presiden AS Donald Trump, sementara Gedung Putih sebelumnya meminta Moskow memberikan informasi lebih lanjut.
Pada Selasa (6/10), Trump mengatakan akan “segera” membahas persoalan tersebut dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kremlin kemudian menyatakan belum ada jadwal pembicaraan, meski komunikasi keduanya dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Menurut Baikal Medical Journal, petugas kesehatan telah melakukan berbagai langkah untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit di Irkutsk. Sejumlah pekerja menggunakan pakaian pelindung dan masker saat mendisinfeksi bangunan tempat Shipilova tinggal.
Bangunan tersebut beberapa kali disemprot setelah kematiannya pada Jumat (2/10). Seorang warga mengatakan bau disinfektan sangat menyengat selama proses tersebut, sementara petugas disebut mengatakan penyemprotan dilakukan untuk membasmi kecoa.
Namun, warga tersebut mengaku tidak melihat adanya kecoa di bangunan itu dan sudah mengetahui rumor mengenai dugaan wabah penyakit pes.







