Metapos.id, Jakarta – Marah merupakan salah satu emosi alami manusia yang perlu dikendalikan agar tidak berujung pada tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dalam Islam, kemampuan menahan amarah menjadi bagian penting dari akhlak seorang muslim.
Salah satu tuntunan Rasulullah ﷺ mengenai pengendalian emosi tercantum dalam hadis ke-16 Kitab Al-Arba’in An-Nawawiyyah karya Imam An-Nawawi.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, seorang laki-laki meminta nasihat kepada Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.”
Ketika laki-laki tersebut mengulangi permintaannya, Rasulullah ﷺ tetap memberikan jawaban yang sama.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari nomor 6116.
Makna Wasiat Jangan Marah
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Jami’ul ’Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa larangan marah tidak berarti manusia harus menghilangkan seluruh perasaan emosinya.
Larangan tersebut mencakup upaya membangun akhlak mulia, seperti sabar, pemaaf, dermawan, dan mampu menahan diri. Sifat-sifat tersebut membantu seseorang menghindari pemicu kemarahan sekaligus mencegah tindakan buruk ketika emosi muncul.
Sementara itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Arba’in An-Nawawi menjelaskan pentingnya menahan amarah karena emosi yang tidak terkendali dapat membawa seseorang kepada perilaku yang merugikan.
5 Cara Mengendalikan Amarah dalam Islam
Berikut beberapa tuntunan yang dapat dilakukan ketika menghadapi kemarahan.
1. Membaca Ta’awwudh
Ketika amarah mulai muncul, seorang muslim dianjurkan memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca:
“A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.”
Bacaan tersebut menjadi bentuk memohon perlindungan dari godaan setan agar tidak terbawa emosi dan melakukan tindakan yang buruk.
2. Mengubah Posisi Tubuh
Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan untuk mengubah posisi ketika marah. Jika seseorang marah dalam keadaan berdiri, dianjurkan untuk duduk. Apabila amarah belum mereda, ia dapat berbaring.
Tuntunan ini membantu seseorang mengambil jeda sebelum merespons situasi yang memicu emosi.
3. Menahan Lisan dan Memilih Diam
Ketika marah, seseorang perlu menjaga perkataan agar tidak mengucapkan sesuatu yang menyakiti orang lain.
Menahan lisan dapat mencegah munculnya caci maki, perkataan kasar, maupun keputusan yang disesali setelah emosi mereda.
4. Mengambil Wudu
Berwudu dapat menjadi salah satu cara menenangkan diri ketika menghadapi kemarahan.
Selain membantu menyegarkan tubuh, wudu memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak dari situasi yang memicu emosi dan kembali mengingat Allah.
5. Mengingat Keutamaan Menahan Amarah
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesama.
Hal tersebut tercantum dalam Surah Ali ’Imran ayat 134, yang menjelaskan sifat orang bertakwa, termasuk kemampuan menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Dengan memahami keutamaan tersebut, seorang muslim diharapkan dapat menjadikan kesabaran sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Mengendalikan amarah bukan berarti mengabaikan perasaan atau membiarkan perlakuan buruk. Islam mengajarkan umatnya untuk menghadapi emosi dengan bijaksana, menjaga lisan, serta menghindari tindakan yang melampaui batas.
Melalui tuntunan Rasulullah ﷺ, seorang muslim dapat belajar mengelola kemarahan sekaligus menjaga hubungan dengan sesama.







