Metapos.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Kuba kini berada dalam posisi yang sangat rapuh setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Menurut Trump, Havana kehilangan dukungan strategis utama, baik dari sisi keamanan maupun pasokan energi, seiring runtuhnya peran Venezuela sebagai sekutu.
Trump menegaskan bahwa masa depan Kuba sangat bergantung pada keberlangsungan pemerintahan Maduro. Dengan tertangkapnya pemimpin Venezuela tersebut, kemampuan Caracas untuk menopang sekutu-sekutunya di kawasan Amerika Latin dinilai ikut melemah.
Saat ditanya apakah Washington akan mengambil langkah langsung terhadap Kuba, Trump menampik kemungkinan tersebut. Ia menyebut Kuba berpotensi jatuh tanpa perlu intervensi lebih lanjut dari Amerika Serikat.
“Saya pikir itu akan runtuh dengan sendirinya. Tidak perlu kami melakukan apa pun. Sepertinya prosesnya sudah berjalan dan ini sudah mendekati akhir,” ujar Trump.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One, tak lama setelah operasi penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya. Keduanya ditahan pada Sabtu lalu atas tuduhan keterlibatan dalam konspirasi narkoterorisme, sebuah langkah yang mengguncang peta politik kawasan.
Pasca-penangkapan tersebut, pemerintah Kuba menyerukan aksi demonstrasi untuk mendukung Venezuela dan menuduh Amerika Serikat telah melanggar kedaulatan negara lain. Namun, pejabat AS menegaskan bahwa peran aparat keamanan Kuba selama ini sangat signifikan dalam menopang kekuasaan Maduro.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut personel Kuba memegang kendali penting dalam sistem keamanan dan intelijen Venezuela. Mereka disebut bertugas menjaga keselamatan Maduro sekaligus memastikan loyalitas internal pemerintahan.
“Maduro tidak dijaga oleh pengawal Venezuela. Yang menjaganya adalah pengawal Kuba,” kata Rubio.
Pemerintah Kuba kemudian mengonfirmasi bahwa 32 anggota militer dan kepolisian mereka tewas dalam operasi AS di Venezuela. Pengumuman tersebut menjadi laporan resmi pertama terkait korban dari pihak Kuba. Pemerintah Havana juga menetapkan masa berkabung nasional selama dua hari.
Trump turut membenarkan adanya korban dari pihak Kuba saat kembali ke Washington. Ia menyatakan banyak personel Kuba tewas dalam operasi tersebut, sementara tidak ada korban jiwa di pihak Amerika Serikat.
“Banyak dari mereka yang tewas. Tidak ada korban dari pihak kami,” ujar Trump.














