Metapos.id, Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia berpeluang menghentikan impor bawang putih dalam kurun waktu paling lama lima tahun ke depan. Target tersebut akan dicapai melalui peningkatan luas tanam, produktivitas, serta penguatan kemandirian pangan nasional.
Amran menegaskan rencana penghentian impor bukan sekadar wacana, melainkan program dengan target waktu yang jelas dan terukur.
“Kita bisa hentikan impor 3 sampai 4 tahun, paling lambat 5 tahun,” ujarnya.
Ia menyebut percepatan swasembada bawang putih merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden RI Prabowo Subianto. Instruksi tersebut langsung direspons cepat oleh jajaran Kementerian Pertanian tanpa menunggu proses birokrasi panjang.
“Sabtu Presiden telepon, Minggu tim langsung berangkat, Senin kami sudah di NTB. Kita buat program khusus,” kata Amran.
Dalam upaya tersebut, Nusa Tenggara Barat (NTB) diproyeksikan menjadi salah satu sentra utama pengembangan bawang putih nasional. Amran menyampaikan optimisme swasembada dapat tercapai dengan dukungan potensi lahan dan produktivitas yang tinggi di daerah tersebut.
Di hadapan petani, penyuluh pertanian lapangan, serta pemerintah daerah di kawasan Sembalun, Amran menegaskan pentingnya penetapan target luas tanam yang jelas dan konsistensi pelaksanaan di lapangan.
“Minimal NTB itu 25 ribu hektare. Kalau bisa 50 ribu hektare, sudah bisa menyuplai provinsi lain,” ujarnya.
Ia juga menyoroti produktivitas bawang putih di NTB yang dinilai sangat menjanjikan. Produksi rata-rata mencapai 20 ton per hektare, bahkan ada yang menembus 28 ton per hektare.
“Kalau nasional maksimal 100 ribu hektare, itu sudah swasembada. Dibanding padi yang 7,4 juta hektare, ini relatif kecil,” katanya.
Menurut Amran, pencapaian target tersebut dapat dilakukan hanya oleh beberapa daerah, seperti NTB, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah, jika dikerjakan secara konsisten.
Sebelumnya, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto juga mendorong perluasan swasembada pangan tidak hanya pada beras dan jagung, tetapi juga komoditas strategis lain seperti bawang putih dan kedelai.
“Saya mendorong swasembada bawang putih dan kedelai,” ujar Titiek.












