Metapos.id, Jakarta – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), berdampak pada sektor pendidikan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.378 sekolah mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, pendataan terhadap kondisi sekolah terdampak telah dilakukan oleh tim gabungan di lapangan.
“Untuk sektor pendidikan, kami akan menyampaikan sebanyak 1.378 sekolah terdampak. Sebanyak 177.678 siswa, 21.166 guru dan tenaga didik juga terdampak akibat gempa,” ucap Berton kepada media, Sabtu (21/8/2026).
Dari total sekolah yang terdampak, sebanyak 923 sekolah masih menghentikan kegiatan belajar untuk sementara waktu. Sementara itu, 35 sekolah menggunakan lokasi atau ruang darurat untuk melanjutkan pembelajaran.
“Sebanyak 923 sekolah libur sementara, 35 sekolah di ruang darurat, 171 sekolah belajar jarak jauh, dan 30 sekolah belajar normal,” tutur Berton.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan. BNPB mencatat sebanyak 5.521 ruang kelas serta 502 bangunan fasilitas sekolah mengalami kerusakan berat.
BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah akan melanjutkan pendataan. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak gempa.
Pembelajaran Tetap Disesuaikan Kondisi
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyiapkan pedoman pelaksanaan pembelajaran dalam situasi darurat pascagempa di NTT.
Sekolah diberikan keleluasaan menentukan metode belajar berdasarkan tingkat kerusakan bangunan, ketersediaan fasilitas, kondisi siswa dan guru, serta keadaan lingkungan sekitar.
“Kami memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar proses pembelajaran dapat terus berlangsung dan hak belajar murid tetap terpenuhi, meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan,” kata Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin melalui keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Dalam kondisi darurat, sekolah dapat mengutamakan materi yang dianggap paling penting dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Dukungan psikososial, keselamatan, kemampuan literasi dan numerasi dasar, serta pemulihan rutinitas belajar juga menjadi perhatian.
Pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti tatap muka terbatas, belajar mandiri, maupun metode lain yang menyesuaikan kondisi dan fasilitas yang tersedia.







