Monday, September 14, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Reog Bulkiyo, Warisan Budaya Blitar dengan Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro

Taufik Hidayat by Taufik Hidayat
31 July 2026
in Lifestyle & Health
Reog Bulkiyo, Warisan Budaya Blitar dengan Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro

Metapos.id, Jakarta – Reog selama ini dikenal luas sebagai kesenian khas Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Namun, Kabupaten Blitar juga memiliki seni tradisional bernama Reog Bulkiyo yang menyimpan sejarah, karakter pertunjukan, serta nilai budaya yang berbeda.

Reog Bulkiyo merupakan warisan budaya yang berasal dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Hingga kini, kesenian tersebut masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Meski sama-sama menggunakan nama Reog, penampilan, kostum, gerakan tari, dan iringan musiknya memiliki ciri khas tersendiri.

BACA JUGA

Influenza A Meningkat, Jangan Abaikan Gejala-gejalanya

Demi Hindari Pajak, Warga Swiss Ramai-Ramai Jadi Ateis

Berdasarkan penelitian Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Reog Bulkiyo berkembang dari perjalanan sejarah masyarakat Blitar dan menjadi salah satu seni pertunjukan tradisional yang mempunyai identitas berbeda dibandingkan Reog Ponorogo.

Dalam setiap pementasannya, Reog Bulkiyo tidak menampilkan dadak merak maupun topeng kepala harimau yang menjadi simbol Reog Ponorogo. Sebagai gantinya, pertunjukan lebih menonjolkan gerakan bertema peperangan yang dipadukan dengan iringan musik tradisional.

Sejarah Reog Bulkiyo

Menurut hasil penelitian ISI Surakarta, Reog Bulkiyo diperkirakan mulai muncul pada masa Perang Jawa sekitar tahun 1825–1830. Kesenian ini diyakini dikembangkan oleh para prajurit Pangeran Diponegoro yang menetap di Desa Kemloko setelah menghindari pengejaran pasukan kolonial Belanda.

Pada masa awal perkembangannya, Reog Bulkiyo tidak hanya berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat. Kesenian ini juga dimanfaatkan sebagai sarana melatih ketangkasan dan kemampuan bertempur para prajurit sebelum kembali melanjutkan perjuangan.

Memasuki masa berikutnya, fungsi Reog Bulkiyo mengalami perubahan dan berkembang menjadi bagian dari tradisi budaya masyarakat Blitar. Kini, pertunjukan tersebut rutin ditampilkan dalam upacara adat, peringatan hari besar, maupun festival budaya.

Perbedaan Reog Bulkiyo dengan Reog Ponorogo

Walaupun sama-sama menggunakan nama Reog, kedua kesenian ini memiliki asal-usul, konsep pertunjukan, dan filosofi yang berbeda. Keunikan tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

1. Asal Daerah

Reog Bulkiyo berasal dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar yang hingga kini menjadi pusat pelestariannya. Sementara Reog Ponorogo berkembang di Kabupaten Ponorogo dan telah lama menjadi identitas budaya daerah tersebut.

2. Latar Belakang Cerita

Reog Bulkiyo mengangkat kisah perjuangan pasukan Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Sebaliknya, Reog Ponorogo mengusung cerita rakyat yang melibatkan tokoh Ki Ageng Kutu, Klono Sewandono, Singo Barong, dan Dewi Songgolangit.

3. Penggunaan Dadak Merak

Pertunjukan Reog Bulkiyo tidak menggunakan dadak merak maupun barongan yang identik dengan Reog Ponorogo. Sebaliknya, Reog Ponorogo menjadikan Singo Barong berhias dadak merak sebagai ikon utama dalam setiap pementasan.

4. Kostum Penari

Para penari Reog Bulkiyo mengenakan busana yang menggambarkan sosok prajurit sesuai tema perjuangan yang diangkat. Sementara itu, Reog Ponorogo menghadirkan karakter khas seperti Warok, Jathil, Klono Sewandono, Bujang Ganong, hingga Singo Barong.

5. Iringan Musik

Perbedaan lainnya tampak pada alat musik pengiring. Reog Bulkiyo memanfaatkan kecer sebagai pembuka irama yang dipadukan dengan rebana, sronen, kenong, dan kempul sehingga menghasilkan nuansa musik yang khas dan berbeda dari Reog Ponorogo.

Tags: Blitarbudaya IndonesiaKesenian TradisionalMetapos.idPangeran DiponegoroPerang JawaReog BulkiyoReog Ponorogo
Previous Post

Kim Se Jeong dan Bae Hyeon Seong Dipasangkan di Drama Baru

Next Post

Park Hae Il Ungkap Karakter Editor Pemberani di Film Assassins

Related Posts

Influenza A Meningkat, Jangan Abaikan Gejala-gejalanya
Lifestyle & Health

Influenza A Meningkat, Jangan Abaikan Gejala-gejalanya

14 September 2026
Demi Hindari Pajak, Warga Swiss Ramai-Ramai Jadi Ateis
Lifestyle & Health

Demi Hindari Pajak, Warga Swiss Ramai-Ramai Jadi Ateis

14 September 2026
3 Kebiasaan yang Bisa Membantu Otak Tetap Prima Saat Menua
Lifestyle & Health

3 Kebiasaan yang Bisa Membantu Otak Tetap Prima Saat Menua

13 September 2026
Minum Kopi untuk Redakan Stres? Ini Takaran yang Perlu Diketahui
Lifestyle & Health

Minum Kopi untuk Redakan Stres? Ini Takaran yang Perlu Diketahui

13 September 2026
Nasi untuk Anjing, Boleh atau Tidak? Ini Jawabannya
Lifestyle & Health

Nasi untuk Anjing, Boleh atau Tidak? Ini Jawabannya

13 September 2026
NAZA
Lifestyle & Health

NAZA Dapat Standing Ovation Terlama Sepanjang Sejarah Venice

12 September 2026
Next Post
Apakah Konsumsi Selada Benar-Benar Baik untuk Kesehatan? Simak Penjelasannya

Park Hae Il Ungkap Karakter Editor Pemberani di Film Assassins

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini