Metapos.id, Jakarta – Jason Statham membuktikan bahwa seorang aktor tidak selalu harus keluar dari zona nyaman untuk mempertahankan kesuksesan. Selama hampir tiga dekade, aktor asal Inggris itu konsisten membintangi film-film bergenre aksi.
Nama Statham mulai dikenal lewat film gangster karya Guy Ritchie, seperti Lock, Stock and Two Smoking Barrels dan Snatch. Namun, perannya sebagai Frank Martin dalam The Transporter yang membuat namanya semakin dikenal secara global.
Dilansir dari berbagai sumber Statham kemudian kembali memerankan Frank Martin dalam dua sekuel berikutnya. Setelah itu, ia memilih tidak melanjutkan perannya dalam waralaba tersebut, Sabtu (26/09/2026).
Studio kemudian mencoba menghidupkan kembali The Transporter melalui dua proyek reboot dengan pemeran baru. Namun, keduanya tidak mampu menyamai popularitas versi Statham.
The Transporter: The Series
Setelah The Transporter 3 dirilis, publik sempat menantikan film keempat. Namun, proyek tersebut tak kunjung terwujud sehingga kreator Luc Besson mengembangkan waralaba tersebut menjadi serial televisi.
Peran Frank Martin diberikan kepada Chris Vance yang sebelumnya dikenal lewat Prison Break. Aktor Prancis François Berléand juga kembali memerankan Inspektur Tarconi.
Namun, The Transporter: The Series tidak mampu menarik perhatian penonton seperti versi film layar lebar. Serial tersebut hanya berjalan selama 24 episode sebelum akhirnya dibatalkan.
Musim keduanya juga berakhir dengan cerita yang menggantung atau cliffhanger. Di Rotten Tomatoes, serial tersebut mendapatkan skor audiens 59 persen tanpa skor resmi dari kritikus.
Salah satu kritik terhadap serial ini berkaitan dengan alur cerita yang dianggap terlalu dangkal. Ceritanya juga dinilai lebih berfokus pada adegan kejar-kejaran mobil dibandingkan pengembangan karakter dan ketegangan plot.
The Transporter Refueled
Upaya reboot berikutnya dilakukan melalui film The Transporter Refueled pada 2015. Ed Skrein yang dikenal lewat Game of Thrones dipercaya memerankan Frank Martin versi baru.
Secara finansial, film tersebut mencatatkan pendapatan US$72,6 juta dari anggaran produksi US$22 juta. Namun, penerimaan terhadap kualitas film jauh berbeda.
The Transporter Refueled hanya mendapatkan skor 15 persen di Rotten Tomatoes. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam sejarah waralaba The Transporter, dengan kritik banyak diarahkan pada lemahnya alur cerita.
Sebagai perbandingan, tiga film The Transporter yang dibintangi Statham sebelumnya masing-masing mencatat pendapatan US$43,9 juta, US$89,1 juta, dan US$112,9 juta.
Dua proyek reboot tersebut menunjukkan tantangan besar dalam meneruskan waralaba tanpa Statham sebagai Frank Martin. Karakter sang kurir tangguh tersebut telah begitu melekat dengan citra dan gaya akting Statham.







