Thursday, October 15, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

OPEC: Butuh 12 Triliun Dolar AS untuk Investasi Migas hingga 2045

Rahmat Herlambang by Rahmat Herlambang
25 November 2022
in Ekbis
OPEC: Butuh 12 Triliun Dolar AS untuk Investasi Migas hingga 2045

JAKARTA,Metapos.id – Pengembangan sektor minyak dan gas bumi (migas) di dunia diketahui membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Bahkan jumlahnya diproyeksi bisa mencapai 12 triliun dolar AS, atau setara dengan Rp187.731 triliun untuk investasi hingga 2045 mendatang.

Hal tersebut disampaikan Senior Upstream Oil Industry Analyst Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) Mohammad A. Al Kazimi.

BACA JUGA

Inflasi AS Memanas, Rupiah Kembali Tertekan

SMLE Gandeng Denico, Bidik Pasar Pangan Asia

Kata dia, jumlah fantastis investasi ini untuk disebar ke sektor hulu, tengah atau proses, dan sektor hilir migas.

“Kami terus mengulangi apa yang telah kami katakan di pandangan sebelumnya, diperlukan investasi besar. Menatap tahun 2045, proyeksi kami menunjukkan bahwa investasi lebih dari 12 triliun dolar AS akan dibutuhkan di hulu, tengah, dan hilir,” ujarnya dalam 3rd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG), di BNDCC, Nusa Dua, Bali, Kamis, 24 November.

Lebih lanjut, Mohammad A. Al Kazimi menjelaskan bahwa investasi tersebut bukan tanpa dasar. Salah satunya, dampak terhadap pertumbuhan ekonomi global yang dinilai bakal berjalan positif.

“Mengingat tantangan mendesak saat ini, penting untuk diingat bahwa sektor minyak yang didanai dengan baik memberikan banyak manfaat nyata bagi ekonomi global. Selain memasok sumber energi yang sangat diperlukan untuk gaya hidup kita, industri ini juga menyediakan banyak pekerjaan bergaji tinggi, berketerampilan tinggi, dan stabil,” jelasnya.

Selain itu, Mohammad A. Al Kazimi meyakini dalam proses transisi energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT), masih ada ruang bagi industri migas. Artinya, seluruh jenis energi masih dibutuhkan.

“Tidak ada solusi satu ukuran untuk semua untuk masa depan energi global yang berkelanjutan,” ucapnya.

Di samping itu terkait dengan gambaran atau outlook penyerapan energi ke depan, Mohammad A. Al Kazimi mengakui kalau OPEC juga punya perhatian khusus ke EBT.

Bahkan, sambung dia, energi matahari dan angin disinyalir memiliki tren pertumbuhan yang paling cepat.

Untuk itu, anggota OPEC menyadari perlunya memperluas bauran energi untuk mengatasi tantangan atas perubahan iklim.

Salah satu upayanya, sejalan dengan Paris Agreement, OPEC sepakat untuk memulai rencana ambisius untuk mendiversivikasi portofolio energinya.

Lebih lanjut, Mohammad A. Al Kazimi menilai kalau minyak memiliki pangsa pasar yang cukup baik dalam jangka menengah.

Bahkan, menurut dia, permintaannya akan terus meningkat.

“Proyeksi juga menunjukkan bahwa minyak akan mempertahankan pangsa tertinggi dalam bauran energi global karena permintaan produk minyak terus meningkat dalam jangka menengah dan meskipun permintaan dalam jangka panjang tidak stabil,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, mengingat keadaan saat ini, ketidakpastian prospek penawaran dan permintaan tetap tinggi, sebagian besar juga karena kurangnya kejelasan tentang tingkat dan ketepatan waktu investasi di sektor energi.

Meski ada banyaknya permintaan, Mohammad A. Al Kazimi menilai kalau masih ada masalah yang perlu dihadapi. Contohnya, soal krisis energi yang dinilai jadi tantangan utama.

“Penting untuk diingat bahwa pada tahun 2020, sekitar 733 juta orang masih tetap tanpa akses listrik dan sekitar 2,4 miliar orang masih kekurangan akses ke solusi memasak bersih, terhitung sepertiga dari populasi dunia,” tutupnya.

Tags: Metapos.idMigasOPEC
Previous Post

Dua Sektor Pajak Ini Sudah Tembus Target di Oktober 2022

Next Post

Bank DKI Raih Top 20 Financial Institution Award 2022

Related Posts

Rupiah dibuka melemah tipis ke Rp17.900 per dolar AS pada 15 Oktober 2026, di tengah kenaikan inflasi AS dan perhatian pasar terhadap kebijakan The Fed.
Ekbis

Inflasi AS Memanas, Rupiah Kembali Tertekan

15 October 2026
SMLE Gandeng Denico, Bidik Pasar Pangan Asia
Ekbis

SMLE Gandeng Denico, Bidik Pasar Pangan Asia

15 October 2026
BEI Perkuat Literasi dan Ketahanan Investor Pasar Modal
Ekbis

BEI Perkuat Literasi dan Ketahanan Investor Pasar Modal

14 October 2026
PEFINDO Catat 244 Publikasi Pemeringkatan hingga September 2026
Ekbis

PEFINDO Catat 244 Publikasi Pemeringkatan hingga September 2026

14 October 2026
Prudential Syariah dan OJK menggelar SYAFIF di Aceh pada 9–11 Oktober 2026 untuk memperkuat literasi keuangan syariah dan membuka peluang bagi UMKM.
Ekbis

Prudential Syariah Perkuat Literasi Keuangan di Aceh

13 October 2026
BEI dan KSEI Perluas Transparansi Kepemilikan Saham
Ekbis

BEI dan KSEI Perluas Transparansi Kepemilikan Saham

9 October 2026
Next Post
Bank DKI Raih Top 20 Financial Institution Award 2022

Bank DKI Raih Top 20 Financial Institution Award 2022

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini