Metapos.id Jakarta – Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2025 menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia turun menjadi 23,36 juta jiwa, berkurang sekitar 490 ribu orang dibanding Maret 2025. Secara persentase, tingkat kemiskinan nasional tercatat 8,25 persen, mengalami penurunan 0,22 basis poin.
Secara regional, tingkat kemiskinan masih lebih tinggi di wilayah perdesaan dengan angka 10,72 persen, sementara di kawasan perkotaan tercatat 6,60 persen. Penurunan ini secara kasat mata menunjukkan tren positif dan sering dipandang sebagai keberhasilan kebijakan ekonomi dan sosial pemerintah.
Namun, jika ditelaah lebih dalam, data tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: apakah penurunan ini benar-benar mencerminkan pengentasan kemiskinan secara nyata, atau sekadar perbaikan statistik semata.
Pengukuran kemiskinan nasional yang berbasis garis pengeluaran minimum dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kualitas hidup masyarakat secara utuh.
Perbandingan dengan standar global menunjukkan gambaran yang berbeda. World Bank dalam laporan Macro Poverty Outlook April 2025 mencatat bahwa lebih dari 60 persen penduduk Indonesia masih berada dalam kategori miskin berdasarkan standar internasional negara berpendapatan menengah atas.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemiskinan sangat bergantung pada definisi dan indikator yang digunakan.
Realitas di lapangan memperlihatkan bahwa banyak keluarga yang secara statistik telah keluar dari garis kemiskinan, tetapi masih hidup dalam kondisi rentan secara ekonomi dan sosial. Akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, lingkungan hidup layak, serta peluang mobilitas sosial antargenerasi masih menjadi persoalan besar yang belum tersentuh sepenuhnya oleh pendekatan berbasis angka.
Kemiskinan tidak semata soal pendapatan, tetapi mencakup dimensi multidimensi seperti kualitas hidup, keamanan sosial, akses layanan publik, dan kesempatan masa depan. Ketika pengukuran hanya bertumpu pada batas pengeluaran minimum, maka risiko “kemiskinan tersembunyi” menjadi semakin besar.
Karena itu, penurunan angka kemiskinan perlu dipahami secara kritis. Keberhasilan statistik penting, tetapi tidak cukup.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa perbaikan data benar-benar sejalan dengan peningkatan kualitas hidup rakyat secara nyata dan berkelanjutan.













