Metapos.id, Jakarta – Hantavirus merupakan virus zoonosis yang berasal dari hewan pengerat dan dapat menular kepada manusia. Penularannya biasanya terjadi melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Penyakit ini tergolong langka, tetapi dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru, jantung, hingga ginjal. Dalam kondisi berat, hantavirus bahkan berisiko menyebabkan kematian.
Gejala awal hantavirus umumnya mirip flu biasa. Penderitanya dapat mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga gangguan pencernaan lainnya.
Gejala tersebut biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus. Tingkat keparahan penyakit dapat berbeda tergantung jenis hantavirus yang menginfeksi.
Pada kasus Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), kondisi pasien dapat berkembang cepat menjadi batuk dan sesak napas. Penumpukan cairan di paru-paru juga dapat terjadi dan mengganggu fungsi pernapasan.
Sementara itu, pada Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), penderita dapat mengalami tekanan darah menurun dan gangguan pembekuan darah. Dalam tahap lanjut, penyakit ini berisiko menyebabkan gagal ginjal.
Hantavirus umumnya dibawa oleh berbagai jenis hewan pengerat, terutama tikus. Risiko penularan meningkat saat seseorang membersihkan ruangan tertutup, bekerja di area pertanian, atau tinggal di lingkungan dengan populasi tikus tinggi.
Virus dapat masuk ke tubuh melalui udara yang tercemar partikel kotoran tikus, makanan yang terkontaminasi, atau kontak langsung dengan benda yang terkena virus. Gigitan dan cakaran tikus juga dapat menjadi media penularan.
Meski penularan antar manusia sangat jarang, kasus tersebut pernah ditemukan pada virus Andes di wilayah Amerika Selatan. Penularan biasanya terjadi melalui kontak dekat dalam waktu lama dengan penderita.
Menjaga kebersihan lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penularan hantavirus. Segera periksakan diri ke tenaga medis apabila mengalami gejala setelah kontak dengan hewan pengerat.






