Friday, May 8, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

Food Noise Jadi Tantangan Baru dalam Penanganan Obesitas

Rahmat Herlambang by Rahmat Herlambang
8 May 2026
in Lifestyle & Health
Food Noise Jadi Tantangan Baru dalam Penanganan Obesitas

Metapos.id, Jakarta – Fenomena food noise kini menjadi perhatian dalam pembahasan penanganan obesitas di Indonesia.

Food noise merupakan dorongan pikiran terus-menerus tentang makanan, bahkan saat tubuh sebenarnya tidak membutuhkan asupan tambahan.

BACA JUGA

Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia dalam Tiga Tahun

Sinopsis dan Jadwal Tayang Film Jungle di Bioskop Trans TV

Kondisi tersebut dinilai berbeda dengan rasa lapar biasa karena berkaitan dengan mekanisme biologis tubuh dan respons otak terhadap makanan.

Dalam diskusi media bertajuk “Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga”, para ahli menilai kondisi ini sering menjadi hambatan utama dalam upaya penurunan berat badan.

Berdasarkan World Obesity Atlas 2022, Indonesia menempati posisi ketiga dengan prevalensi obesitas tertinggi di Asia Tenggara.

Wakil Sekretaris Jenderal PP PDGKI, dr. Iflan Nauval, mengatakan obesitas bukan sekadar persoalan disiplin atau pola makan semata.

“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras, tetapi tetap merasa kesulitan karena tantangannya bukan hanya soal disiplin, melainkan juga biologi tubuh yang kompleks,” ujarnya.

Ia menjelaskan pendekatan penanganan obesitas kini bergeser dari sekadar menghitung kalori menjadi memperbaiki mekanisme biologis tubuh.

Salah satu inovasi medis yang kini banyak digunakan adalah terapi GLP-1 receptor agonist atau GLP-1 RA yang membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang di otak.

Terapi tersebut dinilai mampu membantu mengurangi rasa lapar, menekan keinginan makan berlebih, serta mendukung penurunan berat badan yang lebih berkualitas.

Tags: food noiseGLP-1 RAMetapos.idnovo nordiskObesitaspenurunan berat badan
Previous Post

Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia dalam Tiga Tahun

Next Post

CSIS Sebut Program MBG Dorong Ekonomi Rakyat dan UMKM

Related Posts

Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia dalam Tiga Tahun
Lifestyle & Health

Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia dalam Tiga Tahun

8 May 2026
Koalisi Prancis dan Inggris Tawarkan Pengamanan Selat Hormuz untuk Iran
Lifestyle & Health

Sinopsis dan Jadwal Tayang Film Jungle di Bioskop Trans TV

7 May 2026
Virus Hantavirus Diduga Menyebar di Kapal Pesiar, 3 Penumpang Meninggal
Lifestyle & Health

Strain Andes Hantavirus Terdeteksi di Afrika Selatan, Bisa Menular Antarmanusia

7 May 2026
Aktris Q’orianka Kilcher Gugat James Cameron dan Disney Terkait Avatar
Lifestyle & Health

Aktris Q’orianka Kilcher Gugat James Cameron dan Disney Terkait Avatar

7 May 2026
Orang Indonesia Suka Makanan Pedas, Ini Alasan Utamanya
Lifestyle & Health

Orang Indonesia Suka Makanan Pedas, Ini Alasan Utamanya

7 May 2026
241 Ribu Kasus TBC Ditemukan, Pemerintah Percepat Skrining dan Pengobatan
Lifestyle & Health

241 Ribu Kasus TBC Ditemukan, Pemerintah Percepat Skrining dan Pengobatan

6 May 2026
Next Post
Pemerintah Ambil Langkah Cepat Cegah Insiden Keamanan Pangan Terulang di Program MBG

CSIS Sebut Program MBG Dorong Ekonomi Rakyat dan UMKM

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini