Metapos.id, Jakarta — Masa peralihan dari satu musim ke musim lainnya sering ditandai dengan perubahan cuaca yang tidak menentu. Kondisi tersebut membuat tubuh harus menyesuaikan diri dengan perubahan suhu dalam waktu relatif singkat.
Situasi ini juga dapat diikuti meningkatnya berbagai keluhan kesehatan. Infeksi virus musiman menjadi salah satu gangguan yang kerap dialami masyarakat dan dapat menghambat aktivitas sehari-hari.
Dokter umum sekaligus content creator kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qoth’i, menjelaskan bahwa perubahan kondisi cuaca berkaitan dengan meningkatnya risiko tubuh mengalami infeksi.
“Musim pancaroba ini ada perubahan suhu, baik itu dingin ke panas atau sebaliknya, memang masalah kesehatan yang paling banyak terjadi adalah infeksi,” jelas dr. Ikhsan dalam acara Better Self Care Starts from Better Preparation on Transitional Weather bersama Actifed, di Depok , dikutip Minggu (4/10/2026).
Menurut Ikhsan, infeksi yang muncul pada masa pancaroba tidak hanya menyerang satu bagian tubuh. Keluhan dapat terjadi pada tenggorokan maupun saluran pencernaan, dengan gangguan pernapasan seperti flu dan influenza termasuk yang banyak ditemukan.
“Macam-macam infeksi, mulai dari infeksi tenggorokan, infeksi saluran cerna, tapi yang paling common terutama saat ini adalah flu dan influenza,” paparnya.
Gejala Tetap Perlu Ditangani
Flu dan sejumlah infeksi ringan memang dapat membaik seiring meningkatnya kemampuan tubuh melawan penyakit. Namun, proses pemulihan tetap dapat disertai berbagai keluhan yang membuat penderita merasa tidak nyaman.
“Penyakit seperti ini memang bisa sembuh sendirinya atau self-limiting disease. Tapi sembuhnya enggak mungkin tanpa gejala,” tegas dr. Ikhsan.
Gejala yang menyertai proses tersebut dapat berupa suhu tubuh meningkat, hidung terasa tersumbat, serta batuk. Penanganan terhadap gejala dapat membantu penderita tetap merasa nyaman selama masa pemulihan.
“Pada proses penyembuhannya pasti ada gejala-gejala ikutan yang biasanya pengobatannya itu salah satunya adalah dengan memberikan obat-obatan simtomatik untuk mengatasi gejalanya,” terangnya.
Selain menangani keluhan yang muncul, masyarakat juga dianjurkan memperhatikan kondisi tubuh selama cuaca berubah-ubah. Menjaga pola hidup sehat menjadi bagian penting untuk membantu mempertahankan daya tahan tubuh.
Bijak Memilih Obat di Apotek
Munculnya batuk, pilek, atau keluhan ringan lainnya sering membuat masyarakat memilih pengobatan mandiri. Obat kemudian dibeli langsung di apotek berdasarkan pengalaman penggunaan sebelumnya.
Apoteker sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia, Dr. apt. Lucy Novianti, MM, mengingatkan agar kebiasaan tersebut tidak dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi yang sedang dialami.
Menurut Lucy, jenis dan kebutuhan obat dapat berbeda meskipun gejala yang dirasakan terlihat serupa.
“Kalau bicara batuk dan pilek, kadang pasien itu menganggapnya sudah biasa dan datang ke apotek cuma minta obat yang biasanya mereka pakai. Padahal bisa saja gejala dan kebutuhannya berbeda dengan apa yang ia alami saat ini,” paparnya.
Karena itu, masyarakat perlu menyampaikan kondisi dan keluhan secara lengkap ketika berkonsultasi di apotek. Informasi tersebut dapat membantu apoteker memberikan rekomendasi yang lebih sesuai.
“Obat batuk dan pilek itu variannya banyak sekali, maka sangat penting untuk pasien menjabarkan gejalanya dengan detail kepada apoteker supaya rekomendasi obatnya lebih tepat,” pungkas Lucy.






