Metapos.id, Jakarta – Dunia memperingati Hari Bermain Sedunia setiap 11 Juni untuk mengingatkan pentingnya aktivitas bermain dalam kehidupan anak. Momentum ini juga mengajak masyarakat menempatkan bermain sebagai bagian penting dari proses tumbuh dan belajar.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan peringatan tersebut pada 2024 melalui sebuah resolusi. Setelah itu, UNICEF dan UNESCO turut mendorong gerakan global untuk memperkuat pemenuhan hak anak.
Aktivitas bermain memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi ide dan mengembangkan cara berpikir. Selain itu, anak dapat membangun kemampuan sosial dan mengelola emosi sejak usia dini.
Melalui permainan, anak belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan menghadapi tantangan sederhana. Karena itu, sejumlah institusi pendidikan mulai mengadopsi pendekatan belajar yang lebih interaktif.
Model pembelajaran berbasis bermain dinilai mampu meningkatkan keterlibatan anak selama kegiatan belajar. Di sisi lain, metode tersebut membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan.
Pada peringatan tahun 2026, tema yang diusung adalah “Protect Play, Protect Childhood”. Tema ini menyoroti pentingnya menjaga kesempatan bermain sebagai bagian dari perlindungan masa anak-anak.
Berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga sektor swasta, diajak berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung anak. Sementara itu, masyarakat juga memiliki peran menghadirkan ruang bermain yang aman dan terbuka.
UNICEF menilai pendidikan usia dini berbasis bermain perlu terus diperluas. Selain itu, pendekatan tersebut dapat memperkuat hubungan antara anak dan keluarga.
Anak usia tiga hingga enam tahun diharapkan memperoleh kesempatan belajar yang lebih seimbang melalui aktivitas bermain. Karena itu, penyediaan fasilitas yang ramah anak menjadi perhatian bersama.
Hari Bermain Sedunia kembali menegaskan bahwa bermain merupakan hak setiap anak. Pada akhirnya, kesempatan tersebut berperan dalam membentuk generasi yang sehat, percaya diri, dan berkembang secara optimal.







