Metapos.id, Jakarta – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan negaranya akan kembali melancarkan serangan terhadap kilang minyak Rusia setelah menghentikan sementara operasi tersebut atas permintaan Amerika Serikat (AS).
Keputusan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Kyiv dan Washington, menyusul tudingan Ukraina bahwa AS membatasi dukungan intelijen dan akses layanan satelit Starlink yang digunakan militernya.
Zelensky mengatakan Ukraina telah menahan serangan terhadap fasilitas energi Rusia selama tiga hari untuk memenuhi permintaan Washington, sementara serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina terus berlanjut.
“Kita sudah selesai,” tegas Zelensky, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (16 Oktober 2026).
Pemimpin Ukraina itu menilai pembatasan dukungan AS membuat negaranya semakin rentan menghadapi serangan Rusia, terutama karena informasi intelijen berperan penting dalam mendeteksi ancaman rudal dan mengaktifkan pertahanan udara.
Zelensky juga menyoroti pembatasan layanan Starlink yang digunakan untuk mendukung komunikasi militer dan operasi drone Ukraina.
“Ini bukan masalah teknis, ini soal kemauan,” ujar Zelensky.
Ia mengungkapkan bahwa pejabat AS telah memperingatkan Kyiv mengenai kemungkinan penghentian berbagi intelijen apabila Ukraina tidak menghentikan serangan terhadap fasilitas energi Rusia.
“Jika Anda tidak menghentikan [serangan], kami akan memblokir intelijen,” kata Zelensky.
Ketegangan semakin meningkat setelah AS menyepakati pelepasan sekitar 300 ribu ton solar Rusia ke pasar global untuk membantu menekan harga bahan bakar, sebuah langkah yang dikhawatirkan Kyiv dapat menambah pendapatan Moskow di tengah perang.
Zelensky menyatakan hanya bersedia menghentikan serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia jika AS memberikan tambahan sistem pertahanan udara Patriot untuk melindungi wilayah Ukraina.
Sementara itu, Kremlin melaporkan adanya upaya serangan drone dan rudal Ukraina terhadap kilang minyak di Ryazan, wilayah di selatan Moskow, pada Kamis (15/10/2026).
Pemilik SpaceX, Elon Musk, turut menegaskan bahwa layanan Starshield, versi komunikasi satelit yang digunakan untuk kebutuhan militer, berada di bawah kendali pemerintah AS.
Meski hubungan kedua negara memanas, Ukraina masih membutuhkan dukungan militer dan intelijen Washington untuk menghadapi serangan Rusia yang terus berlanjut.







