Metapos.id, Jakarta – Fenomena embun upas kembali muncul di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, seiring turunnya suhu udara hingga mencapai minus 6 derajat Celsius. Kondisi tersebut menjadi suhu terendah yang tercatat selama musim kemarau tahun ini dan menarik perhatian wisatawan.
Embun upas merupakan lapisan kristal es yang terbentuk ketika suhu permukaan tanah berada di bawah titik beku. Fenomena ini umumnya terjadi pada dini hari saat langit cerah sehingga panas dari permukaan bumi mudah terlepas ke atmosfer.
Hamparan embun es terlihat menutupi rerumputan, daun tanaman, hingga atap kendaraan yang terparkir di kawasan Dieng. Pemandangan tersebut menciptakan panorama unik yang kerap dijuluki sebagai “salju tropis” oleh para wisatawan.
Meski terlihat indah, embun upas dapat memberikan dampak negatif bagi sektor pertanian di sekitar Dieng. Tanaman kentang, carica, dan berbagai komoditas hortikultura berisiko mengalami kerusakan akibat jaringan tanaman membeku saat suhu turun drastis.
BMKG menjelaskan fenomena ini dipengaruhi angin monsun Australia yang membawa udara kering selama musim kemarau. Kondisi langit yang minim awan membuat suhu malam hari turun sangat cepat hingga mencapai titik beku.
Fenomena embun upas juga berdampak positif terhadap sektor pariwisata karena menarik lebih banyak pengunjung ke kawasan Dieng. Banyak wisatawan datang sejak sebelum matahari terbit untuk menyaksikan embun es yang hanya bertahan selama beberapa jam.
Pengunjung yang ingin menikmati fenomena tersebut diimbau mempersiapkan pakaian tebal karena suhu udara sangat dingin. Selain menjaga kondisi tubuh, wisatawan juga diminta tetap mematuhi aturan dan menjaga kebersihan kawasan wisata.
Embun upas diperkirakan masih berpotensi muncul hingga puncak musim kemarau apabila kondisi cuaca tetap mendukung. Fenomena alam ini menjadi salah satu daya tarik khas Dieng yang selalu dinantikan setiap tahun sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.







