Wednesday, June 10, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

BI Optimistis Pembiayaan dan Ekonomi Syariah Tetap Bertumbuh

Aulia Fitrie by Aulia Fitrie
4 June 2025
in Ekbis
Bank Indonesia: Inflasi Masih Aman meskipun Terus Merangkak Naik

Jakarta, Metapos.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah di 2025 melambat yakni sebesar 8 persen hingga 11 persen atau lebih rendah dibandingkan dari target sebelumnya yang sebesar 11 persen hingga 13 persen.

Meski demikian, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) BI, Imam Hartono menyampaikan ekonomi dan pembiayaan syariah diperkirakan masih akan terus menunjukkan pertumbuhan positif.

BACA JUGA

PLN Perpanjang Promo Diskon Tambah Daya 50 Persen hingga 23 Juni 2026

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Berikut Daftar BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026

Namun, ia menyampaikan terdapat sejumlah tantangan dalam mendorong pembiayaan perbankan syariah yaitu proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang diturunkan ke kisaran 4,6 persen hingga 5,4 persen dan dinamika perekonomian global.

Imam menekankan bahwa dinamika global tentu memberikan dampak terhadap perekonomian, baik syariah maupun konvensional, namun hal tersebut justru menjadi peluang untuk mengoptimalkan strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di dalam negeri.

“Tapi tentu nanti ini tetap akan kita pantau terus bagaimana perkembangannya. Jadi kalau dikatakan bahwa apakah ada dampak global, sudah pasti. Jadi artinya dampak global dan ekonomi ini sebenarnya sifatnya umum, baik itu berdampak kepada syariah maupun konvensional,” ujarnya dalam taklimat media BI, Rabu, 4 Juni.

Ia menjelaskan bahwa ekosistem syariah harus dibuat menarik dan memerlukan peran dari berbagai pihak dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah.

Imam menjelaskan saat ini, literasi masyarakat terhadap keuangan syariah tergolong cukup baik, namun tingkat inklusi nya masih rendah, dan hal ini berbeda dengan sistem keuangan konvensional, di mana tingkat inklusi cenderung lebih tinggi dibanding literasinya.

Menurutnya dengan kondisi tersebut menunjukkan adanya potensi besar yang dapat dioptimalkan, sehingga salah satu strategi yang akan dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan perbankan syariah adalah dengan meningkatkan literasi masyarakat terhadap produk-produk keuangan syariah.

Selain itu, ia menyoroti bahwa masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa layanan keuangan syariah cenderung lebih mahal dibandingkan produk konvensional.

“Sekarang ini kita bersama kementerian/lembaga terkait melalui simulasi itu mencoba melakukan simulasi itu dari sisi pemahaman,” ungkapnya.

Selain edukasi, ia menyampaikan bahwa BI juga berupaya mengembangkan produk-produk keuangan syariah yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat salah satu inisiatif terbaru adalah mendorong hadirnya produk Shariah Restricted Investment Account (SRIA), hasil kolaborasi BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Adapun, SRIA merupakan instrumen investasi syariah yang memberikan keleluasaan bagi investor untuk menentukan batasan pengelolaan dana mereka, agar sesuai dengan proyek atau sektor usaha tertentu.

Imam berharap dengan kehadiran SRIA dapat memperluas pilihan instrumen investasi syariah sekaligus meningkatkan minat masyarakat.

Di sisi lain, ia menyampaikan bahwa BI dan OJK juga terus mendukung pengembangan unit usaha syariah di perbankan, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak alternatif layanan keuangan berbasis syariah.

“Tapi itu juga ternyata belum cukup. Karena kita pelaku usaha syariah kita harus diperkuat, diperkuat supaya saya bisa survive, supaya saya bisa berdaya saring,” jelasnya.

Sebagai langkah lanjutan, ia menegaskan bahwa BI berupaya mempertemukan sektor korporasi dengan sumber pembiayaan syariah dan sinergi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah secara lebih berkelanjutan di masa mendatang.

Tags: Bank IndonesiaEkonomi syariahMetapos.id
Previous Post

Kemenperin: Jutaan Orang Bergantung Hidup pada Sektor Industri Hasil Tembakau

Next Post

Menaker Yassierli Bantah soal Job Fair Cuma Formalitas Perusahaan

Related Posts

PLN Perpanjang Promo Diskon Tambah Daya 50 Persen hingga 23 Juni 2026
Ekbis

PLN Perpanjang Promo Diskon Tambah Daya 50 Persen hingga 23 Juni 2026

10 June 2026
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Berikut Daftar BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026
Ekbis

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Berikut Daftar BBM Pertamina Terbaru 10 Juni 2026

10 June 2026
Chatib Basri: Rupiah Loyo Berisiko Naikkan Harga Barang
Ekbis

Chatib Basri: Rupiah Loyo Berisiko Naikkan Harga Barang

9 June 2026
Apple Bocorkan Arah Pengembangan Software Generasi Berikutnya di WWDC 2026
Ekbis

Rupiah Tertekan, Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen

9 June 2026
Jakpro Gandeng Feel Good Network Kelola Naming Rights JIS
Ekbis

Jakpro Gandeng Feel Good Network Kelola Naming Rights JIS

9 June 2026
Sengketa Koperasi Swadharma dan Cerita Kerugian yang Juga Menyeret BNI
Ekbis

Sengketa Koperasi Swadharma dan Cerita Kerugian yang Juga Menyeret BNI

9 June 2026
Next Post
Menaker Yassierli Bantah soal Job Fair Cuma Formalitas Perusahaan

Menaker Yassierli Bantah soal Job Fair Cuma Formalitas Perusahaan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini