Metapos.id, Jakarta – China resmi mencatat sejarah baru dengan menayangkan Beyond Wukong, serial drama berdurasi penuh yang sepenuhnya diproduksi menggunakan kecerdasan buatan atau AI. Serial tersebut bahkan mendapat slot tayang utama di televisi.
Penggunaan AI dalam produksi drama China sebenarnya bukan hal baru. Teknologi tersebut sebelumnya lebih sering digunakan untuk mengganti wajah aktor yang terlibat kontroversi agar produksi yang sudah selesai tetap dapat ditayangkan.
Namun, Beyond Wukong menjadi proyek berbeda karena seluruh produksinya mengandalkan AI. Global Times pada Rabu (2/9) melaporkan serial ini juga langsung mencetak rekor rating puncak pada slot penayangannya.
Beyond Wukong merupakan adaptasi dari novel klasik era Dinasti Ming dan menghadirkan babak baru dalam semesta Journey to the West. Ceritanya berlangsung 1.000 tahun setelah era Kera Sakti dan mengikuti perjalanan kera batu muda bernama Sun Xiaosheng untuk memulihkan tatanan kosmik.
Visual serial tersebut menggabungkan estetika lukisan tradisional China dengan teknologi digital modern.
Serial ini juga menjadi proyek percontohan kebijakan baru regulator penyiaran China yang dikenal sebagai 21 Broadcasting Guidelines. Aturan tersebut memungkinkan proses produksi dan evaluasi konten dilakukan secara lebih bertahap melalui skema “tinjau sambil tayang”.
Kehadiran Beyond Wukong memicu perdebatan di media sosial China. Sebagian penonton memuji visual digitalnya, sementara lainnya mempertanyakan kedalaman emosi dan penokohan yang dihasilkan mesin.
Sutradara utama Beyond Wukong, Li Dongshen, menegaskan bahwa proses kreatif tetap dikendalikan manusia.
“Belum ada model AI untuk film yang bisa menulis naskah sendiri secara mandiri. Seluruh penciptaan tetap digerakkan dan dikendalikan oleh pemikiran serta pertimbangan estetika manusia,” ujar Li dikutip dari berbagai sumber, Senin (07/09/2026).
Li mengakui AI dapat memangkas biaya perbaikan naskah dalam produksi film. Namun, teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan karena belum mampu memberikan penolakan intuitif seperti juru kamera manusia.
Untuk menjaga kualitas seni dan menghindari persoalan hak cipta, tim produksi tetap menggunakan pengisi suara manusia serta mempertahankan tim artistik utama.
Pengamat media dari Universitas Normal Nanjing, Zhang Peng, menilai Beyond Wukong menunjukkan perkembangan AIGC atau AI-generated content dari video pendek di internet menuju industri televisi arus utama.
Meski demikian, ia menilai ekspresi mikro karakter masih terlihat kaku dan perkembangan emosinya cenderung formulatis. Menurutnya, AI mampu menciptakan visual megah, tetapi belum dapat memahami makna iman, pengorbanan, dan kemanusiaan yang menjadi inti literatur klasik.







