Metapos.id, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat persiapan demutualisasi bursa melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (28/10/2026). Langkah ini menjadi bagian dari strategi penguatan tata kelola dan pengembangan pasar modal Indonesia untuk meningkatkan daya saing global hingga 2030.
RUPSLB yang digelar di Main Hall Gedung BEI, Jakarta, membahas tiga agenda utama, yakni perubahan anggaran dasar perseroan terkait demutualisasi, penggunaan saldo laba ditahan berdasarkan laporan keuangan auditan per 30 Juni 2026, serta rencana kerja dan anggaran tahunan untuk tahun buku 2027.
Perubahan anggaran dasar tersebut diperlukan untuk menyesuaikan ketentuan internal perseroan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pemegang Saham Bursa Efek. Penyesuaian ini menjadi salah satu tahapan dalam mempersiapkan struktur kepemilikan bursa yang lebih luas sesuai regulasi.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, transformasi pasar modal perlu ditopang tata kelola yang kuat, infrastruktur andal, dan kepercayaan investor. Menurutnya, demutualisasi menjadi bagian dari upaya mempersiapkan bursa agar lebih kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan pasar pada masa mendatang.
BEI Bidik Target Pasar Modal pada 2030
Dalam konferensi pers RUPSLB, BEI turut memaparkan strategi pengembangan pasar modal melalui kerangka Strategy House dan sejumlah inisiatif unggulan.
BEI menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp30.000 triliun pada 2030, dengan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp31 triliun. Perseroan juga membidik 1.100 perusahaan tercatat, 35 juta investor pasar modal, serta rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) di atas 83%.
Untuk mencapai sasaran tersebut, BEI menyiapkan empat pilar strategi, yaitu mendorong pertumbuhan bisnis berbasis transaksi, mengembangkan bisnis nontransaksi, meningkatkan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat, serta memperluas inklusivitas pasar modal bagi berbagai segmen investor.
Strategi ini didukung penguatan sumber daya manusia, efisiensi proses dan sinergi IDX Group, pengembangan kemitraan dengan penyedia indeks serta pemeringkat global, optimalisasi aset teknologi informasi, dan penyelarasan data dalam ekosistem pasar modal.
Jeffrey menegaskan bahwa target pengembangan hingga 2030 tidak hanya berfokus pada kapitalisasi pasar dan aktivitas transaksi, tetapi juga peningkatan partisipasi masyarakat serta kualitas perusahaan tercatat.
Perkuat Infrastruktur dan Tata Kelola
BEI juga menempatkan penguatan infrastruktur perdagangan dan pengawasan, peningkatan kualitas tata kelola, serta kolaborasi dengan para pemangku kepentingan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Melalui langkah tersebut, BEI berupaya memperluas partisipasi investor domestik sekaligus membangun pasar modal yang transparan, kredibel, inklusif, dan berkelanjutan.
Persiapan demutualisasi dan penerapan strategi pengembangan pasar diharapkan menjadi fondasi bagi peningkatan daya saing bursa Indonesia di tingkat internasional menuju 2030.







