Metapos.id, Jakarta – Hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) menjadi penentu bagi banyak siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. Namun, tidak semua peserta berhasil memperoleh hasil yang diharapkan.
Ketika dinyatakan tidak lolos, banyak siswa merasakan kesedihan, kecewa, bahkan kehilangan semangat. Kondisi tersebut juga sering dirasakan oleh orangtua yang selama ini mendampingi proses belajar anak.
Psikolog menegaskan bahwa sikap orangtua setelah pengumuman SNBT dapat memengaruhi cara anak menghadapi kegagalan. Oleh sebab itu, orangtua perlu mengutamakan ketenangan sebelum memberikan respons.
Luapan emosi berupa amarah, tuntutan, atau kritik yang berlebihan justru dapat menambah beban mental anak. Selain itu, kondisi tersebut dapat membuat anak merasa gagal dan kehilangan keyakinan terhadap dirinya sendiri.
Para ahli menyarankan agar orangtua terlebih dahulu mengelola perasaan kecewa yang muncul. Setelah itu, mereka dapat mendampingi anak dengan pendekatan yang lebih bijak dan penuh empati.
Di samping itu, keluarga perlu menghadirkan suasana yang nyaman untuk anak. Pada masa awal setelah pengumuman, anak biasanya membutuhkan dukungan emosional daripada penilaian terhadap hasil yang diperoleh.
Orangtua dapat menunjukkan kepedulian dengan mendengarkan keluh kesah anak tanpa menghakimi. Langkah sederhana ini membantu anak merasa diterima dan dihargai.
Sementara itu, anak juga perlu memahami bahwa rasa sedih akibat kegagalan merupakan hal yang wajar. Perasaan tersebut muncul karena mereka telah berusaha keras untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Meski belum berhasil lolos SNBT, peluang untuk melanjutkan pendidikan tetap terbuka lebar. Berbagai jalur masuk perguruan tinggi masih tersedia dan dapat menjadi alternatif untuk meraih cita-cita.
Karena itu, keluarga sebaiknya tetap memberikan semangat dan dukungan positif. Dengan pendampingan yang tepat, anak dapat bangkit, menyusun langkah baru, dan kembali fokus menatap masa depan.







