JAKARTA, Metapos.id — Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda mengalami erupsi sejak Sabtu (5/9/2026) dini hari hingga siang hari.
Aktivitas erupsi tersebut menyebabkan abu vulkanik berpotensi bergerak ke arah barat mengikuti arah angin. Dampaknya mulai dirasakan sejumlah wilayah di Provinsi Lampung yang berada di sisi barat Gunung Anak Krakatau.
Bandar Lampung menjadi salah satu daerah yang dilaporkan mengalami hujan abu vulkanik pada Sabtu malam. Sejumlah warga mulai mendapati debu vulkanik di lingkungan tempat tinggal mereka.
Dinda, warga Sukarame, Bandar Lampung, mengatakan abu mulai terasa setelah waktu magrib. Debu tersebut tidak hanya mengganggu ketika berada di luar rumah, tetapi juga masuk hingga ke dalam hunian.
“Sampai di lantai rumah bagian dalam juga debunya,” kata Dinda dikutip dari berbagai sumber, Minggu (6/7/26).
Paparan abu juga dilaporkan terjadi di kawasan Kemiling, Bandar Lampung. Jarak antara Gunung Anak Krakatau di wilayah Lampung Selatan dengan Bandar Lampung diperkirakan sekitar 80 kilometer.
Dampak serupa turut dirasakan warga Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Donny mengaku wilayah tempat tinggalnya mulai terkena abu vulkanik.
“Sampai tempatku juga debunya, dekat Bandara Lampung,” kata warga Natar, Lampung Selatan tersebut.
Abu vulkanik juga dilaporkan mencapai Pulau Sangiang di Selat Sunda. Mutia, seorang wisatawan asal Bogor yang sedang berada di pulau tersebut, mengatakan abu mulai terasa pada sore hingga malam hari.
“Aku di pulau sangiang juga kena debu. Baru kenanya sore ke malem, pindah angin kata bapak nelayan,” ujar Mutia.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker dan pelindung mata ketika abu vulkanik turun.
“Kalau ada sebaran abu, masyarakat sebaiknya menggunakan masker dan pelindung mata saat beraktivitas di luar. Ini untuk menghindari abu masuk ke saluran pernapasan maupun mengenai mata,” kata Suwarno, Sabtu siang.
Menurut Suwarno, arah penyebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kondisi angin. Karena itu, masyarakat diminta terus memantau informasi terbaru yang disampaikan petugas.
“Abunya mengikuti arah angin. Jadi masyarakat perlu memerhatikan perkembangan arah angin dan informasi dari petugas,” ujarnya.
Hasil pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Sabtu pukul 06.00-12.00 WIB menunjukkan erupsi masih berlangsung secara terus-menerus.
Kolom erupsi tidak terlihat karena kawasan gunung tertutup kabut. Meski demikian, aktivitas kegempaan masih tercatat dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi mencapai 21.600 detik.
Dari arah gunung juga masih terdengar suara gemuruh serta dentuman dengan intensitas lemah hingga sedang.
Suwarno mengimbau masyarakat tetap tenang dalam menghadapi aktivitas vulkanik tersebut. Namun, kewaspadaan harus terus ditingkatkan mengingat erupsi masih berlangsung.
Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melihat langsung aktivitas erupsi.
“Jangan mendekat. Untuk kawasan Gunung Anak Krakatau tetap ada rekomendasi tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif,” tegasnya.
Selain itu, warga disarankan membatasi kegiatan di luar rumah ketika hujan abu terjadi. Apabila harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan memakai perlengkapan pelindung.
“Kalau tidak ada kepentingan, sebaiknya hindari aktivitas di luar rumah saat abu turun. Kalau harus keluar, gunakan masker dan pelindung mata,” ujarnya.
Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berada pada status Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki dilarang memasuki kawasan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.






