Metapos.id, Jakarta – OpenAI merilis GPT-6 Cyber, model kecerdasan buatan (AI) terbaru yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan layanan riset keamanan siber Daybreak. Model ini dikembangkan untuk menemukan kerentanan perangkat lunak, memvalidasi potensi eksploitasi, hingga membantu mempercepat proses perbaikan sistem keamanan.
GPT-6 Cyber merupakan pengembangan dari GPT-5.6 Cyber. OpenAI mengklaim model terbaru ini lebih andal dalam mendeteksi celah keamanan dan melaporkan hasil pengujian secara akurat, dengan tetap mengikuti batasan yang ditetapkan peneliti.
“Daybreak Red dirancang untuk mendukung workflow keamanan yang lebih canggih, termasuk mengembangkan working exploits dan menggunakannya terhadap target jarak jauh,” tulis OpenAI di laman resminya, Kamis (5/11/2026) dikutip dari berbagai sumber, Minggu (08/11/2026).
Dalam pengembangannya, OpenAI melakukan sejumlah pengujian, termasuk ExploitGym, RemoteExploitBench, ExploitBench, dan SRE Bench. Pengujian tersebut digunakan untuk mengukur kemampuan model dalam menemukan kerentanan serta melakukan eksploitasi pada sistem tertentu.
“Pada ExploitGym yang menguji apakah model dapat mengeksploitasi kerentanan tertentu, GPT-6 Cyber mencetak skor 48,5 persen, naik dari 32,1 persen pada GPT-5.6 Cyber,” kata OpenAI.
Temukan Celah di Firefox dan Linux
OpenAI menyebut GPT-6 Cyber telah digunakan untuk mengidentifikasi kerentanan perangkat lunak sumber terbuka. Model tersebut berhasil menemukan 81 titik kerentanan pada Firefox dan mengirimkan laporan beserta usulan perbaikan kepada Mozilla.
Selain itu, GPT-6 Cyber berhasil mereplikasi 1.724 kerentanan pada kernel Linux dan menghasilkan 948 working exploits. Model ini juga mampu mendemonstrasikan eksploitasi Remote Code Execution (RCE), yakni serangan yang memungkinkan pelaku menjalankan kode dari jarak jauh pada sistem target.
Meski memiliki kemampuan tersebut, OpenAI mengaku tetap memperkuat sistem pengamanan agar model tidak digunakan untuk aktivitas berbahaya.
“Saat diuji tanpa petunjuk keamanan deployment, model ini menghindari eksploitasi layanan di luar cakupan dalam 99,93 persen kasus, meningkat dari 94,49 persen untuk GPT-5.6 Cyber. Dengan peringatan tersebut, GPT-6 Cyber tetap berada dalam batas yang diizinkan 100 persen pada setiap sesi,” jelas OpenAI.
Perusahaan juga menyatakan telah membatasi bantuan yang berpotensi membahayakan sistem industri, infrastruktur kritis, maupun keselamatan manusia.
“Untuk mencegah penyalahgunaan platform Daybreak Red dan Blue, kami telah menyempurnakan pengamanan terhadap bantuan dan pengembangan kemampuan yang dapat membahayakan kontrol industri atau sistem kritis keselamatan, mengganggu peralatan, atau menyebabkan cedera serius, kerusakan fisik yang dahsyat, atau gangguan layanan yang mengancam jiwa,” jelas OpenAI.
Daybreak pertama kali diluncurkan pada 11 Mei 2026 melalui kolaborasi OpenAI dengan sejumlah mitra keamanan siber. Salah satu inisiatifnya adalah Patch the Planet yang membantu penanganan kerentanan PHP2Shell bersama PHP Foundation.
GPT-6 Cyber tersedia melalui API dan Codex serta dapat digunakan melalui Daybreak Red, yang aksesnya dibatasi untuk profesional keamanan siber tepercaya. Sementara itu, Daybreak Blue tetap tersedia untuk publik dengan kemampuan dan akses model yang lebih terbatas guna mengurangi risiko penyalahgunaan.






