Metapos.id, Jakarta – Serangan drone menghantam pangkalan militer di Santa Rosa del Sur, Kolombia utara, pada Sabtu (7/11/2026). Insiden tersebut menewaskan tiga tentara dan menyebabkan sedikitnya 16 orang mengalami luka-luka.
Mengutip Al Jazeera, Minggu (8/11/2026), Angkatan Bersenjata Kolombia mengonfirmasi serangan terjadi di pangkalan militer yang berada di kaki Pegunungan San Lucas.
Santa Rosa del Sur merupakan kawasan kaya tambang emas yang selama bertahun-tahun menjadi wilayah perebutan kelompok bersenjata. Beberapa kelompok yang beroperasi di kawasan tersebut antara lain Gulf Clan, Tentara Pembebasan Nasional (ELN), serta kelompok-kelompok kecil yang dipimpin mantan anggota FARC.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak berwenang belum mengidentifikasi kelompok yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap membubung dari pangkalan militer setelah tiga ledakan terjadi. Sejumlah tentara tampak berlindung di balik benteng karung pasir.
Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengecam serangan tersebut dan menegaskan bahwa para pelaku akan dimintai pertanggungjawaban.
“Mereka yang berada di balik serangan ini… tidak akan punya tempat bersembunyi,” tulis de la Espriella melalui X dikutip dari berbagai sumber (08/11/2026).
“Setiap serangan terhadap prajurit kami justru memperkuat tekad kami untuk membela Kolombia.”
Konflik Bersenjata di Kolombia Meningkat
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di sejumlah wilayah pedesaan Kolombia sejak de la Espriella menjabat sebagai presiden pada Agustus 2026.
Pemerintahannya membatalkan perundingan damai dengan kelompok pemberontak dan mengambil pendekatan militer yang lebih konfrontatif. Langkah tersebut mencakup peningkatan serangan udara, pengerahan pasukan tambahan, serta pembentukan satuan tugas gabungan untuk melindungi aset strategis.
Pekan sebelumnya, pangkalan militer di Provinsi Tolima juga diserang menggunakan rudal rakitan berbahan tabung gas. Insiden itu menewaskan empat warga sipil, termasuk bayi berusia dua bulan.
Sementara itu, kepolisian di kota perbatasan Cucuta beberapa kali menjadi sasaran bom yang diaktifkan dari jarak jauh.
Data lembaga pemantau konflik bersenjata ACLED mencatat pasukan pemerintah dan kelompok bersenjata ilegal melakukan 34 serangan menggunakan bom atau bahan peledak dalam empat minggu hingga 16 Oktober. Angka tersebut meningkat 9 persen dibandingkan rata-rata serangan dalam periode empat mingguan pada tahun sebelumnya.
Meski perjanjian damai dengan FARC pada 2016 mendorong demobilisasi lebih dari 14 ribu pejuang, kelompok-kelompok bersenjata yang lebih kecil masih memperebutkan wilayah bekas kekuasaan pemberontak tersebut.






