Metapos.id, Jakarta – Iran memperkuat komunikasi dengan Rusia di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat dan dinamika politik di negara-negara sekutu Washington. Sekretaris Keamanan Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin pada Kamis (5/11/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung setelah negosiator Iran bertemu dengan mediator untuk membahas proposal mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Rezaei juga menyampaikan pesan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, kepada Putin.
Kantor kepresidenan Rusia turut mengonfirmasi pertemuan tersebut. Dalam keterangannya setelah pembicaraan, Rezaei mengatakan kedua pihak membahas persoalan regional dan pengaturan keamanan setelah perang.
“Masalah-masalah regional penting dibahas dengan Putin, dan percakapan penting terjadi mengenai periode pasca-perang dan pengaturan keamanan regional,” kata Rezaei dikutip dari berbagai sumber, Jumat (06/11/2026).
Selain keamanan, pembicaraan juga mencakup rencana pembangunan jalur pipa gas dari Rusia ke Iran. Proyek tersebut ditujukan untuk membantu mengatasi kekurangan gas di Iran sekaligus membuka peluang bagi Rusia menjual gas ke negara-negara tetangga Iran.
Sementara itu, Mojtaba Khamenei sebelumnya menegaskan sikap Teheran terhadap Washington. Dalam pernyataan tertulis pada Rabu (4/11), ia menyebut seharusnya tidak ada “sedikit pun kecenderungan untuk tunduk” kepada Amerika Serikat, seperti dikutip Arab News.
Negosiasi AS-Iran Masih Buntu
Upaya perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat masih menghadapi sejumlah persoalan. Pembahasan mencakup masa depan Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, sanksi terhadap Teheran, serta kemungkinan dimulainya kembali negosiasi program nuklir.
Seorang pejabat senior Iran menyebut kedua pihak masih memiliki perbedaan pendapat yang besar. Rezaei juga menegaskan bahwa Iran telah menetapkan tujuh syarat sebelum bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan negosiasi.
“Namun, kami telah mengatakan kepadanya bahwa dalam masalah diplomasi, kami telah mengumumkan tujuh syarat kepada Amerika, selama mereka tidak melaksanakan tujuh syarat kami, kami tidak akan membuka Selat Hormuz maupun melakukan negosiasi,” tambah Rezaei.
Di tengah perkembangan tersebut, dinamika politik Amerika Serikat dan Israel turut menjadi perhatian. Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump dilaporkan kehilangan mayoritas, sementara Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga tidak lagi memegang kekuasaan. Kedua pemerintahan kini menghadapi perubahan peta politik di negara masing-masing.






