Metapos.id, Jakarta – Salinan ijazah Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta dipajang secara abadi di Erasmus University Rotterdam (EUR), Belanda. Pemajangan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi Bung Hatta.
Dilansir dari berbagai sumber, salinan ijazah Bung Hatta dipamerkan di aula sebuah bangunan bernama Hatta Building. Nama tersebut diberikan untuk menghormati perjuangan Bung Hatta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Kamis (08/10/2026).
Bung Hatta merupakan salah satu mahasiswa EUR yang saat itu masih bernama Nederlandse Handelshogeschool. Ia menempuh pendidikan di Belanda pada 1921 hingga 1932.
Selama berada di Belanda, Bung Hatta aktif dalam Perhimpunan Indonesia dan terpilih menjadi ketua organisasi tersebut pada 1926-1930. Di bawah kepemimpinannya, organisasi mahasiswa itu berkembang menjadi gerakan politik yang tegas menyuarakan asas non-kooperasi demi kemerdekaan Indonesia.
Sebelum berangkat ke Belanda, perjalanan pendidikan Bung Hatta dimulai di Bukittinggi, Sumatra Barat. Ia menyelesaikan sekolah rakyat selama tiga tahun, kemudian melanjutkan ke Europeesche Lagere School dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setingkat SMP.
Setelah lulus MULO, Hatta diterima di Prins Hendrik School di Batavia atau Jakarta. Sekolah dagang tersebut kini dikenal sebagai SMA Negeri 1 Budi Utomo atau Boedoet.
“Prins Hendrik School, Sekolah Dagang Menengah 5 tahun. Dasarnya 3 tahun HBS dan di atas itu ada 2 tahun jurusan dagang. Murid tamatan MULO diterima di kelas atau sering juga disebut kelas pertama bagian dagang,” jelas Bung Hatta dalam Mohammad Hatta Memoir.
Hatta lulus dari Prins Hendrik School pada Mei 1921. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Nederland Handelshogeschool Rotterdam dengan beasiswa dari Van Deventer-Stichting.
Selama kuliah, Hatta mempelajari ilmu ekonomi yang kemudian menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan hidupnya. Pada Juni 1932, ia lulus doktor bidang ekonomi bagian pertama dan sebulan kemudian menyelesaikan doktor bagian kedua.
“Aku gembira aku lulus doktoral bagian pertama,” katanya.
Meski tidak memperoleh predikat cum laude, Hatta tetap menganggap kelulusannya sebagai pencapaian membanggakan.
“Aku tidak mengharapkan predikat cum laude. Apalagi karena studiku di sini lamanya hampir 11 tahun, sedangkan biasanya lamanya lima tahun,” kata Hatta.







