Metapos.id, Jakarta — Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian di tengah meningkatnya kasus influenza di Indonesia.
Data surveilans Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat anak usia 0-4 tahun menjadi kelompok dengan kasus Influenza A (H3N2) subclade K tertinggi berdasarkan data 2025-2026.
Pada 2025, tercatat 62 kasus pada kelompok usia tersebut. Sementara pada 2026, jumlahnya mencapai delapan kasus.
Kelompok usia 5-9 tahun juga mencatat delapan kasus pada 2026. Kemudian, terdapat lima kasus pada kelompok usia 10-17 tahun.
Secara keseluruhan, laporan surveilans terbaru Kemenkes menunjukkan 39% kasus influenza yang ditemukan berasal dari anak usia 0-4 tahun.
Lantas, langkah apa yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah penularan influenza pada anak?
Dokter spesialis anak Dr. dr. Mulya Rahma Karyanti menjelaskan influenza dapat menyebar melalui droplet.
Karena itu, anggota keluarga yang mengalami batuk atau pilek dianjurkan memakai masker. Kontak langsung dengan anak juga perlu dikurangi.
Selain itu, peralatan makan dan minum sebaiknya tidak digunakan secara bergantian dengan anggota keluarga yang sedang sakit.
“Biasakan anak-anak menggunakan peralatan makan sendiri, gelas, sendok, piring,” ujarnya.
Anak yang sedang batuk dan pilek juga disarankan sementara tidak mengikuti kegiatan sekolah. Selain membantu proses pemulihan, langkah ini dapat menekan risiko penularan kepada anak lain.
Orang tua juga perlu memastikan kebutuhan nutrisi anak terpenuhi melalui makanan bergizi dan seimbang. Asupan cairan juga harus dijaga.
Pencegahan lainnya dapat dilakukan dengan mengajarkan anak menerapkan etika batuk dan bersin.
Vaksin influenza juga bisa diberikan kepada anak berusia lebih dari enam bulan. Pemberian vaksin dapat dilakukan kembali setiap tahun.
Namun, penggunaan oseltamivir pada anak tidak boleh dilakukan tanpa pertimbangan medis. Mulya mengatakan antivirus tersebut diberikan terutama berdasarkan indikasi tertentu.
Antivirus itu antara lain diperuntukkan bagi anak yang terkonfirmasi influenza dan memiliki risiko tinggi. Kondisi tersebut mencakup penyakit kronis, gangguan jantung atau paru, asma berat, gangguan sistem imun, hingga pneumonia sedang dan berat.
Sementara itu, anak yang mengalami influenza ringan tanpa komplikasi umumnya mendapatkan penanganan suportif.
Penanganannya meliputi pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi. Obat untuk meredakan gejala juga dapat diberikan sesuai arahan tenaga kesehatan.







