Metapos.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut perang dengan Iran akan berakhir “segera” setelah pemilu sela AS yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.
Namun, pernyataan tersebut diragukan oleh pakar yang menilai berakhirnya konflik tidak bisa hanya dikaitkan dengan momentum politik di Amerika Serikat.
Alex Vatanka, senior fellow di The Middle East Institute, mempertanyakan dasar pernyataan Trump mengenai waktu berakhirnya perang tersebut.
“Saya sendiri bereaksi dengan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya dibicarakan presiden Amerika itu?” kata Vatanka, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (10/09/2026).
Menurut Vatanka, Iran kemungkinan akan menunggu hasil diplomasi yang memberikan keuntungan bagi negaranya sebelum mengambil langkah menuju penyelesaian konflik.
Salah satu persoalan yang dinilai perlu diselesaikan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz serta masa depan program nuklir Iran.
Vatanka menilai perang baru dapat benar-benar berakhir apabila AS dan Iran kembali melakukan perundingan untuk mencari titik temu.
“Itu hanya akan berubah jika negosiasi dilanjutkan. Kedua pihak mungkin harus bersedia menemukan titik temu. Begitulah cara mengakhiri perang ini untuk selamanya,” ujarnya.
Ia juga melihat pernyataan terbaru Trump dapat mencerminkan harapan bahwa sanksi dan tekanan ekonomi AS akan mendorong Iran menyerah.
Namun, strategi tersebut dinilai belum memberikan kepastian bahwa tekanan ekonomi mampu mengubah sikap pemerintah Iran.
“Namun sekali lagi, itu hanya sebuah harapan karena tidak ada yang tahu,” tandas Vatanka.
Karena itu, berakhirnya perang setelah pemilu sela AS pada November belum dapat dipastikan dan masih bergantung pada perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran.






