Wednesday, September 30, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Lama di Bawah Belanda, Kenapa Bahasa Belanda Tak Mengakar di Indonesia?

Taufik Hidayat by Taufik Hidayat
15 August 2026
in Lifestyle & Health
Lama di Bawah Belanda, Kenapa Bahasa Belanda Tak Mengakar di Indonesia?

Metapos.id, Jakarta – Indonesia pernah berada di bawah kekuasaan Belanda dalam waktu yang panjang. Namun, kondisi tersebut tidak membuat sebagian besar masyarakat Indonesia fasih menggunakan bahasa Belanda hingga saat ini.

Padahal, penjajahan umumnya meninggalkan pengaruh dalam berbagai bidang, mulai dari hukum, politik, kebudayaan, mentalitas hingga bahasa.

BACA JUGA

LSF Ajak Pelajar Bijak Memilih Tontonan

Orang Tua Wajib Tahu, Begini Cara Cegah Influenza A pada Anak

Berbeda dengan Indonesia, sejumlah negara yang pernah menjadi koloni Inggris seperti Malaysia dan Singapura memiliki masyarakat yang cukup banyak menggunakan bahasa Inggris.

Lantas, mengapa kondisi tersebut tidak terjadi di Indonesia?

Pengaruh bahasa Belanda sebenarnya masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah kosakata Indonesia merupakan hasil serapan dari bahasa Belanda, seperti gordijn yang menjadi gorden, bioscoop menjadi bioskop, serta kantoor menjadi kantor.

Perbedaan tersebut salah satunya dipengaruhi oleh pola kolonialisme yang diterapkan Belanda dan Inggris.

Peneliti sejarah dari Nanyang Technological University, Christopher Reinhart, menjelaskan bahwa Belanda memiliki alasan tertentu untuk tidak menyebarluaskan kebudayaannya kepada masyarakat lokal.

Menurutnya, ada dua faktor utama yang membuat penggunaan bahasa Belanda tidak berkembang luas di tengah masyarakat Indonesia.

Pertama, berkaitan dengan struktur sosial pada masa kolonial. Masyarakat pribumi dan orang Belanda ditempatkan dalam kelompok sosial yang berbeda.

Orang Belanda menempatkan dirinya pada posisi sosial yang lebih tinggi, sedangkan penduduk lokal berada di lapisan bawah. Penyebaran budaya Belanda secara luas dianggap dapat membuat kedua kelompok tersebut terlihat setara secara kultural.

Karena itu, Belanda memilih mempertahankan batas sosial tersebut dan tidak menjadikan kebudayaan mereka sebagai sesuatu yang harus diikuti masyarakat lokal.

Kedua, kebijakan kolonial Belanda lebih berorientasi pada kepentingan ekonomi. Bagi pemerintah kolonial, penyebaran kebudayaan bukan menjadi tujuan utama selama aktivitas ekonomi dan eksploitasi di wilayah jajahan tetap berjalan.

“Snouck Hurgronje, salah satu pejabat pemerintah kolonial, pernah mengatakan bahwa ‘masalah kebudayaan tidak usah dipaksa. Biarlah bertumbuh dengan sendirinya, tanpa menghilangkan budaya lokal,” ujar Reinhart kepada CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.

Pola tersebut berlangsung sejak masa tanam paksa yang dimulai pada 1830 hingga 1900. Kebijakan itu kemudian berlanjut ketika Belanda menerapkan politik etis pada 1900.

Reinhart menjelaskan bahwa Belanda tetap menempatkan kepentingan ekonomi sebagai fokus utama. Setelah politik etis diterapkan, pemerintah kolonial juga semakin memahami pentingnya mempertahankan kebudayaan lokal.

Meski demikian, masyarakat pribumi tetap memiliki kesempatan untuk menyerap berbagai unsur kebudayaan Barat. Sejumlah pengaruh budaya Barat akhirnya berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Sementara itu, bahasa lokal, bahasa Melayu, dan kemudian bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan hingga menjadi bahasa yang digunakan secara luas sampai sekarang.

Tags: . Bahasa Indonesiabahasa BelandaBelandabudaya IndonesiaKolonialismeMetapos.idpenjajahansejarah Indonesia
Previous Post

Gempa M7,7 Guncang Flores, BMKG Keluarkan Peringatan Potensi Tsunami

Next Post

Rambut Pria Terlihat Berantakan? Kenali Tanda Harus Potong Rambut

Related Posts

LSF dan Imperial Pictures mengajak pelajar SMP Al Fajar Bekasi memahami budaya sensor mandiri dan memilih tontonan sesuai usia.
Lifestyle & Health

LSF Ajak Pelajar Bijak Memilih Tontonan

30 September 2026
Orang Tua Wajib Tahu, Begini Cara Cegah Influenza A pada Anak
Lifestyle & Health

Orang Tua Wajib Tahu, Begini Cara Cegah Influenza A pada Anak

30 September 2026
Dylan Sprouse dan Barbara Palvin Sambut Anak Pertama
Lifestyle & Health

Dylan Sprouse dan Barbara Palvin Sambut Anak Pertama

29 September 2026
Sinopsis Irreplaceable, Kisah Cinta Zhao Jinmai di Dunia Bisnis
Lifestyle & Health

Sinopsis Irreplaceable, Kisah Cinta Zhao Jinmai di Dunia Bisnis

29 September 2026
Bekas Jerawat Bopeng Punya Jenis Berbeda, Ini Cara Menanganinya
Lifestyle & Health

Bekas Jerawat Bopeng Punya Jenis Berbeda, Ini Cara Menanganinya

29 September 2026
Nilai transaksi fesyen di TikTok Shop tumbuh 70% pada Semester I 2026. Discovery commerce membuka peluang bagi brand fesyen lokal.
Lifestyle & Health

Discovery Commerce Dorong Brand Fesyen Lokal

29 September 2026
Next Post
Rambut Pria Terlihat Berantakan? Kenali Tanda Harus Potong Rambut

Rambut Pria Terlihat Berantakan? Kenali Tanda Harus Potong Rambut

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini