Metapos.id, Jakarta — Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, perbedaan pendapat seharusnya tidak diwujudkan melalui tindakan saling mencela.
Hal tersebut disampaikan Muzani ketika memberikan pidato pembukaan Sidang Tahunan MPR RI di Ruang Sidang Paripurna.
“Demokrasi tidak akan menjadi lebih kuat karena kita semakin keras mencela,” katanya saat pidato pembukaan Sidang Tahunan MPR RI, di Ruang Sidang Paripurna, Jumat (14/8/2026).
Muzani mengatakan masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dalam sistem demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus digunakan secara bertanggung jawab dan tetap menghormati pihak yang memiliki pandangan berbeda.
Ia menilai perbedaan pemikiran semestinya menjadi bagian dari proses demokrasi, bukan alasan untuk menyerang atau merendahkan orang lain.
Menurutnya, Indonesia telah menentukan demokrasi sebagai mekanisme dalam mengelola keberagaman aspirasi dan pemikiran masyarakat.
“Kita boleh berbeda pandangan, tetapi perbedaan itu hendaknya disampaikan dengan cara budi dan bahasa yang baik,” katanya.
Muzani kemudian mengingatkan bahwa cara seseorang menyampaikan pendapat juga mencerminkan kualitas kehidupan demokrasi. Dalam kesempatan itu, ia mengutip pesan Raja Ali Haji yang tertuang dalam Gurindam 12.
“Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa,” tuturnya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR 2026. Presiden Prabowo Subianto turut hadir untuk menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan kinerja lembaga negara serta pidato kenegaraan dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Usai agenda tersebut, Prabowo dijadwalkan kembali menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPR RI. Dalam kesempatan itu, pemerintah akan menyampaikan RAPBN 2027 sekaligus nota keuangan.
Muzani menilai perbedaan pilihan politik harus tetap disikapi dengan saling menghargai. Menurutnya, demokrasi akan berjalan sehat apabila kritik dan pendapat disampaikan dengan argumentasi yang kuat serta bahasa yang santun.
Kebebasan berpendapat tetap menjadi unsur penting dalam demokrasi. Namun, kebebasan tersebut perlu diimbangi dengan tanggung jawab agar perbedaan tidak berubah menjadi pertentangan yang mengancam persatuan.







