Metapos.id, Jakarta — Kebiasaan anak mengorek hidung kemudian memakan lendir yang keluar kerap membuat orangtua merasa khawatir. Namun, perilaku tersebut pada dasarnya cukup umum dan tidak selalu menunjukkan adanya gangguan kesehatan.
Kebiasaan mengorek hidung dan mengonsumsi lendir hidung dikenal dengan istilah mukofagi. Perilaku ini tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga ditemukan pada sebagian orang dewasa.
Sebuah penelitian terhadap 200 remaja di India pada 2001 menunjukkan hampir seluruh peserta pernah mengorek hidung. Sementara itu, sembilan peserta mengaku terbiasa memakan lendir hidung.
Meski cukup sering dijumpai, alasan seseorang memakan ingus, terutama pada anak-anak, masih belum sepenuhnya dipahami. Sejumlah ahli menduga perilaku tersebut berkaitan dengan rasa penasaran, kebiasaan, atau kondisi hidung yang terasa mengganggu.
Mengapa Anak Suka Makan Ingus?
Ahli biologi evolusi Anne Claire Fabre menjelaskan kepada Live Science bahwa perilaku mengonsumsi lendir juga ditemukan pada beberapa jenis primata.
Menurut Fabre, sebagian besar kandungan ingus berasal dari udara, sedangkan bagian lainnya terdiri atas protein, karbohidrat, dan garam.
“Ada kemungkinan hewan mendapatkan manfaat dari mengonsumsi komponen-komponen ini.
Namun, temuan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa manusia memperoleh manfaat kesehatan dari memakan ingus.
Pada anak-anak, kebiasaan tersebut dapat muncul karena rasa ingin tahu. Anak cenderung mengenal dunia melalui proses eksplorasi, termasuk dengan memperhatikan tubuhnya sendiri.
“Anak-anak belajar dengan menjelajah dan terkadang, itu berarti menjelajahi diri mereka sendiri,” ujar Fabre.
Selain rasa penasaran, anak bisa mengorek hidung ketika merasakan gatal atau terdapat lendir yang membuat tidak nyaman. Setelah lendir keluar, rasa ingin tahu dapat mendorong anak untuk memasukkannya ke mulut.
Tekstur serta rasa asin pada lendir juga diduga menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian orang tertarik mengonsumsinya. Dalam kondisi tertentu, mengorek hidung dapat berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan tanpa sadar atau sebagai bentuk menenangkan diri.
Meski demikian, belum terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa memakan ingus mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Karena itu, orangtua sebaiknya tidak menganggap kebiasaan tersebut sebagai metode alami untuk meningkatkan kekebalan anak.
Apakah Makan Ingus Bisa Menyebabkan Sakit?
Jika dilakukan sesekali, memakan ingus umumnya tidak serta-merta membuat anak mengalami sakit. Tubuh sendiri secara alami menghasilkan lendir yang sebagian besar pada akhirnya tertelan tanpa disadari.
Meski begitu, orangtua tetap perlu mengajarkan kebiasaan menjaga kebersihan kepada anak. Anak dapat diarahkan untuk membersihkan hidung menggunakan tisu dan mencuci tangan setelah menyentuh area hidung.
Orangtua juga tidak perlu langsung memarahi atau mempermalukan anak ketika melihat kebiasaan tersebut. Pendekatan yang tenang dapat membantu anak memahami bahwa menjaga kebersihan hidung merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehat.







